Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Artikel ini adalah ringkasan dari salah satu studi kasus mengenai masalah dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan reproduksi dan ibu melahirkan. Studi kasus diambil dari 7 Kabupaten, yaitu Indramayu, Kota Surakarta, Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Lebak. Di sini dipaparkan kisah kehidupan Kholifah di Lombok Tengah, Desa Ketare.

 

Kholifah dilahirkan 40 tahun yang lalu di sebuah dusun bernama Embung Rungkas yang terletak di desa Ketare, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Ia berasal dari keluarga yang sangat miskin dengan pekerjaan sehari-hari sebagai buruh tani lepas. Dengan pekerjaan sebagai buruh tani, tidak setiap hari Kholifah dan suaminya mendapat pekerjaan. Karena sebagian besar tanah di Lombok Tengah bagian selatan adalah tanah kering dengan masa panen padi hanya satu kali setahun, sisa air tanah digunakan untuk menamam jagung, kacang atau semangka. Selebihnya tanah tidak bisa ditanami apapun. Dan itu berarti tenaga Kholifah atau suaminya banyak terpakai hanya di musim tanam dan musim panen.

 

Saat di wawancara Kholifah telah memiliki enam orang anak, anak terakhirnya masih disusuinya dengan usia sembilan bulan. Kholifah mengaku pernah mengandung sebanyak delapan kali, dimana satu anaknya meninggal di usia 50 hari dan satu lagi meninggal didalam kandungan. Dari delapan kehamilannya tersebut, tujuh kehamilan diperiksakan sekaligus ditolong saat persalinan oleh dukun di dusunnya. Hanya satu anaknya yang pernah dilahirkan di puskesmas. Walau biaya persalinan di puskesmas gratis, tetapi biaya lainnya seperti biaya transportasi dan biaya makan jauh lebih besar dibanding melahirkan di dukun. Dan sejak saat itu Kholifah tidak ingin lagi melahirkan di puskesmas.

 

Saat mengandung anak keempatnya, Kholifah mengalami keguguran. Satu minggu lamanya pendarahan yang begitu deras keluar dari jalan lahirnya, ditambah selama dua hari Kholifah tidak mampu berjalan karena vagina bagian atasnya terasa sangat sakit. Penderitaan yang dialaminya tidak membuatnya terbebaskan dari beban tugas rumah tangga, masih dalam keadaan sakit dan pendarahan, Kholifah harus tetap mencuci sendiri kain kotor bekas darahnya dan sekaligus memasak untuk suami dan anak-anaknya.

 

Persalinan anak terakhirnya, Kholifah mengalami mules yang sangat kuat sehari semalam, perutnya terasa sangat sakit dan hampir kram. Sakit itu yang selalu membuatnya berpikir untuk tidak akan pernah lagi memiliki anak, tapi setiap kali niat itu terlaksana, Kholifah tidak mampu membayar biaya suntikan KB sebesar Rp. 15.000,- baginya uang tersebut lebih baik untuk makan keluarganya.

 

Saat dukun dipanggil untuk membantu persalinannya, dukun menyuruhnya duduk untuk melakukan kontraksi, dukun mengatakan jika dalam keadaan duduk, biasanya kelahiran akan lebih cepat terjadi dibandingkan harus tidur. Setelah berkali-kali kontraksi bayi yang di kandungnya pun lahir yang kemudian diambil oleh tangan dukun tanpa menggunakan sarung tangan.

 

Pasca kelahiran anaknya, Kholifah mengalami pendarahan yang sangat banyak, lebih dari tiga kain sehari selama tujuh hari, selain itu ia merasakan vaginanya (awuq) sangat sakit hingga kram dan tidak bisa berjalan hingga tiga hari lamanya, badannya pun mengalami demam yang sangat tinggi hingga dua hari, dan beberapa masalah lain seperti payudaranya terasa bengkak, bau yang tidak sedap keluar dari jalan lahirnya.

 

Solusi Penyembuhan yang Dipilih Kholifah

Tidak ada bidan di desa Ketare, satu-satunya fasilitas kesehatan yang bisa dijangkau adalah puskesmas Sengkol yang berjarak sekitar 7 Km dari rumahnya. Jarak tempuh dari rumah Kholifah menuju jalan raya desanya sekitar 3 Km, ia harus berjalan kaki atau menggunakan ojek dengan membayar Rp. 5.000,- untuk bisa sampai ke jalan raya dan dilanjutkan naik angkutan umum menuju puskesmas dengan biaya Rp. 2.500,-. Artinya Kholifah harus mengeluarkan biaya transportasi sebesar Rp. 15.000,- PP untuk bisa mengakses puskesmas. Biaya itu jauh lebih besar dari upahnya bekerja satu hari sebagai buruh tani yang mana dibayar sebesar Rp. 10.000,-, sedangkan upah suaminya sama dengan biaya transportasi tersebut. Sehingga tidak mungkin baginya untuk sekedar memeriksakan kesehatannya, sedangkan keluarganya tidak makan di hari itu.

 

Akhirnya Kholifah lebih memilih cara-cara yang dianjurkan dukun. Saat bayinya lahir, dukun kemudian memotong tali pusat bayi dengan menggunakan kulit bambu yang berasal dari kerangka rumah Kholifah, istilah ini dalam bahasa sasak di sebut dengan ”adas-adas” setelah itu dukun akan memasukan satu buah lada (sebia tandan) ke dalam pusat bayi agar lebih cepat sembuh. Jika tali pusat bayinya infeksi, dukun biasa mengajarkannya untuk menaruh bubuk kayu dari tungku di dapur ke dalam tali pusat bayinya, menurut dukun setelah itu tali pusat bayinya akan lebih cepat sembuh dan kering.

 

Pengobatan yang dilakukan oleh dukun terhadap Kholifah setelah melahirkan adalah: Pertama untuk mengecilkan/mengesatkan vagina, Kholifah dianjurkan membakar satu buah batu, saat batu sudah cukup panas kemudian dibungkus dengan kain popok bayinya. Setelah itu bungkusan batu panas tersebut digunakan sebagai alat kompres seluruh badannya, hal yang sama juga dilakukan untuk mengkompres vaginanya yang terasa sakit. Kebiasaan ini biasa dilakukan setiap pagi dan malam hingga vaginanya terasa sembuh. Kedua, ”untuk menyembuhan Vagina” Kholifah akan mandi dengan air yang berisi rempah-rempah, usai mandi kemudian Kholifah akan duduk di sebuah batu panas yang dijemur diterik matahari (sekitar jam 11 – 12 siang), saat duduk vagina Kholifah haruslah menyentuh batu panas tersebut, panas yang dihantarkan batu tersebut ke vagina Kholifah, akan mempercepat kesembuhan akibat melahirkan.

 

Ketiga, ”memulihkan kondisi tubuh” untuk memulihkan badannya yang terasa sakit, dukun akan membuatkan Kholifah jamu yang komposisinya terdiri dari (gula merah + lada), jamu tersebut dapat diminum hingga badan terasa sembuh, tidak ditentukan sampai kapan jamu tersebut dihentikan. Tetapi jamu ini memiliki efek buruk, dimana bisa membuat mencret jika tubuh tidak cocok. Keempat, ”menghilangkan bau dari jalan lahir”. Kholifah akan memasak air dalam satu buah baskon yang berukuran sedang di atas tungku, saat air telah mendidih dan mengeluarkan uap, baskom kemudian diletakkan di bawah vaginanya, walau terasa sakit dan perih, uap air tersebut sangat bermanfaat menghilangkan bau dari jalan lahirnya. Kebiasaan ini biasa dilakukan Kholifah beberapa kali hingga bau terasa hilang. Terkadang hanya satu kali penguapan saja bau tersebut bisa hilang. Ia mengakui cara ini sangat efektif baginya.

 

Selain praktek-praktek tadi, Kholifah pun sering mendengar beberapa larangan yang tidak boleh ia lakukan (mitos) setelah melahirkan yang berasal dari dukun, tetangannya bahkan ibunya sendiri sering mengajarkan larangan–larangan itu. Beberapa larangan yang Kholifah atau antara lain, pertama, setelah melahirkan perempuan dilarang makan daun-daunan yang menjalar ubi jalar, kangkung, kacang-kacangan, buah–buahan yang mengandung air, pisang. Kedua perempuan setelah melahirkan tidak boleh makan ayam. Mitos ini di artikan, jika ibu memakan ayam, maka efeknya akan mengenai bayi, dimana nantinya badan sang bayi akan menjadi panas/sehangat badan ayam. Jadi dianjurkan tidak makan ayam saat bayi berusia satu – enam bulan. Ketiga, perempuan setelah melahirkan dianjurkan makan tidak menggunakan piring, tetapi menggunakan bakul kecil dan hal ini dilakukan selama satu bulan. Keempat, tali pusat bayi harus dibungkus dan digantung dibambu/jemuran pakaian. Mitos ini diartikan, simbol tali pusat bayi yang digantung diharapakan anak mereka akan menjadi anak yang pantas menggunakan pakaian (enak dipandang) dalam bahasa sasak lebih dikenal dengan istilah ”awak penyampek”. ***

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini