Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Artikel ini adalah ringkasan dari salah satu studi kasus mengenai masalah dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan reproduksi dan ibu melahirkan. Studi kasus diambil dari 7 Kabupaten, yaitu Indramayu, Kota Surakarta, Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Lebak. Di sini dipaparkan kisah kehidupan Nurwati di Kelurahan Cempedak, Kecamatan Kotabumi, Lampung Utara.

 

Nurwati berasal dari Serang namun besar di Lampung Utara, lahir pada tahun 1967 jadi saat ini berusia 40 tahun. Nurwati adalah anak ke delapan dari sepuluh orang bersaudara. Nurwati pernah bersekolah hingga kelas 2 SD dan akhirnya terhenti karena keterbatasan ekonomi kedua orang tuanya. Tidak lama setelah mendapatkan menstruasi pertamanya Nurwati menikah di usia 16 tahun dengan Suherman yang satu tahun lebih tua dari Nurwati. Menikah diusia muda bagi keluarga Nurwati bukanlah hal yang aneh, mengingat kebiasaan yang terjadi di masyarakat saat itu. Bila seorang anak gadis telah mendapatkan menstruasi pertamanya maka itu adalah pertanda bahwa mereka telah siap untuk menikah. Menurut mereka dengan menikahkan anak gadis mereka maka hal itu setidaknya akan mengurangi beban ekonomi yang selama ini dirasakan menghimpit.

 

Satu tahun kemudian Nurwati melahirkan anak pertamanya di usianya yang ke 17 tahun. Untuk mencukupi kebutuhan ekonomi, sehari-harinya Nurwati bekerja serabutan menawarkan jasa kepada tetangga dan atau orang yang membutuhkan jasa tukang cuci, memotong rumput, bersih-bersih rumah, dan sebagainya. Begitu pula dengan suaminya Suherman yang juga bekerja serabutan sesuai permintaan, misalnya menggali sumur, menebang kayu, dan sebagainya. Penghasilan mereka dalam sebulan tidak menentu, kadang mereka dapat mengumpulkan Rp. 200.000,- bila ada yang menggunakan jasa mereka namun tak jarang mereka tidak memperoleh penghasilan sama sekali karena tidak ada yang memakai jasa mereka.

 

Saat ini Nurwati memiliki anak sebanyak 9 orang, 5 orang perempuan dan 4 orang laki-laki. Nurwati menuturkan bahwa dari 9 anak yang ada saat ini persalinan yang ditolong oleh dukun adalah sebanyak 3 kali, sekali dengan bidan dan selebihnya dia lebih banyak melahirkan sendiri anaknya dengan dibantu oleh suaminya. Bila bayinya telah lahir barulah mereka memanggil bidan atau dukun untuk memotong tali pusar dan memandikan bayi yang baru lahir. Hal ini dilakukan untuk menghemat biaya persalinan. Bila normalnya biaya persalinan adalah Rp. 150.000,- untuk tenaga dukun dan sekitar Rp. 350.000,- untuk bidan, maka dengan cara melahirkan sendiri ini Nurwati hanya mengeluarkan dana Rp. 100.000,- untuk mengganti jasa bidan yang menolong bayinya dan memberi suntik serta obat. Sedangkan bila menggunakan tenaga dukun dia mengeluarkan uang Rp. 50.000,-.

 

Secara jujur Nurwati mengakui bila seandainya dia harus memilih apakah akan menggunakan tenaga dukun beranak ataukah bidan untuk menolong persalinan, maka dia akan lebih memilih bidan bila memiliki cukup uang untuk membayar jasanya. Bidan dirasakannya lebih memberi jaminan keselamatan karena bidan bisa memberi suntikan dan obat pada saat dia merasa keluhan sakit saat melahirkan ataupun setelah melahirkan. Sedangkan seorang dukun biasanya memberinya “air seluruh” untuk diminum sebelum proses persalinan dimulai, tujuannya adalah untuk mengusir makhluk halus yang menempel sehingga diharapkan persalinan menjadi lancar dan bayi cepat lahir.

 

Nurwati menuturkan selama ini dirinya dan keluarganya sangat jarang pergi ke fasilitas layanan kesehatan yang ada baik itu Puskesmas maupun bidan karena keterbatasan ekonomi. Selain itu, pengalaman berobat ke Puskesmas menggunakan kartu Askeskin dirasakan oleh Nurwati tidak menyenangkan. Dia merasa disepelekan, tidak dianggap, tidak segera dilayani, kalaupun dilayani petugasnya serasa tidak sepenuh hati hal itu terlihat dari sikapnya yang cenderung kurang ramah kepada pasien pengguna Askeskin.

 

Nurwati dan suaminya mengakui bahwa mereka saat belum bisa merasakan manfaat askeskin yang dikeluarkan oleh pemerintah. Berdasarkan pengalaman mereka selama ini tidak ada layanan kesehatan yang benar-benar gratis sekalipun telah menggunakan fasilitas Askeskin, “tanpa uang tidak ada layanan kesehatan yang bisa diperoleh”. Mereka mengaku kalau benar-benar memiliki uang barulah berani untuk berobat, kalau tidak ada uang lebih baik diobati sendiri dengan membeli obat di warung.

 

Anak Nurwati yang terakhir selalu dibawa ke Puskesmas untuk memperoleh imunisasi. Dalam hal ini dia mengeluhkan pelayanan imunisasi yang ternyata tidak sepenuhnya gratis. Dia harus membayar minimal Rp. 1.000,- untuk sekali imunisasi, itupun dia mengaku tidak mendapat jatah biscuit PMT karena alasan anaknya sudah tidak bayi lagi, padahal anaknya masih berumur di bawah lima tahun (usia 3 tahun). Menurut Nurwati jika dia tidak bisa membayar ongkos imunisasi maka petugas tidak akan bersedia mengimunisasi anaknya.

 

Pengalaman lain yang dirasakan mengecewakan oleh keluarga Nurwati adalah pengalamannya menggunakan fasilitas Askeskin untuk pengobatan anaknya yang kedua yakni Agus yang menderita talassemia parah dan akhirnya meninggal dunia karena tidak mendapatkan pengobatan secara tuntas. Meninggalnya Agus merupakan pukulan berat bagi kedua orang tuanya, karena mereka telah berjuang untuk menyelamatkan nyawa Agus dengan membawanya opname ke rumah sakit berkali-kali. Setiap penyakitnya kambuh badan Agus lemas, perutnya membesar dan dia harus menjalani transfusi darah. Pada saat itu Nurwati memiliki kartu Asleskin untuk dipakai berobat. Namun fasilitas yang diberikan gratis bagi pemegang kartu Askeskin ternyata hanyalah kamar dan jasa dokter dan obat-obatan—jika memang tersedia di Rumah sakit. Sementara kebutuhan pengobatan penyakit talassemia tidak hanya pemberian obat-obatan melainkan juga kebutuhan transfusi darah setiap saat dalam jumlah yang cukup banyak. Hal itulah yang dirasakan sangat berat bagi Nurwati dan suaminya.

 

Nurwati menuturkan, untuk transfusi darah anaknya dia harus membeli darah ke PMI Rp. 60.000,- per kantong, harga darah ini dirasakan mahal dan berat karena setiap kali pengobatan Agus membutuhkan transfusi darah sebanyak 4 kantong. Sehingga jika dihitung untuk setiap kali kebutuhan transfusi darah Nurwati harus menyediakan dana sebesar Rp. 240.000,-. Setiap kali pengobatan bila sakit talassemia anaknya kambuh, dibutuhkan perawatan minimal 2 hari di Rumah Sakit dan transfusi darah sebanyak 4 kantong. Sementara kondisi sakit anaknya tergolong sudah parah sehingga dalam satu bulan dia bisa 2-3 kali masuk Rumah Sakit karena membutuhkan perawatan dan tranfusi darah. Kondisi menjadi lebih berat bilamana persediaan darah di PMI telah menipis, Nurwati harus membeli Rp. 100.000,- per kantong.

 

Fasilitas Askeskin yang diperoleh hanyalah berupa pembebasan biaya kamar dan dokter sedangkan obat dan darah mesti membeli sendiri. Terakhir sebelum Agus meninggal dia sempat menjalani perawatan opname di RS selama kurang lebih 1 bulan dan menghabiskan dana sebesar Rp. 1,5 juta. Dana ini masih harus ditambah dengan kebutuhan transportasi dan makan bagi keluarga selama menjaga Agus opname di RS. Nurwati dan suaminya berharap ada kebijakan pemerintah yang benar-benar meringankan bagi masyarakat miskin saat membutuhkan pelayanan pengobatan dengan membebaskan seluruh biaya pengobatan yang ada. ***

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini