Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Artikel ini adalah ringkasan dari salah satu studi kasus mengenai masalah dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan reproduksi dan ibu melahirkan. Studi kasus diambil dari 7 Kabupaten, yaitu Indramayu, Kota Surakarta, Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Lebak. Di sini dipaparkan kisah kehidupan Maimunah di Jembrana, Desa Tegal Badeng Timur, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana.

 

Maimunah dan Masalah Kesehatan Reproduksinya

Maimunah menceritakan bahwa ia pernah mengalami berbagai bentuk masalah kesehatan terkait dengan kesehatan reproduksinya. Ia mengalami masalah pada saat menstruasi, keputihan, masalah pada saat hamil dan persalinan serta KB.

 

Masalah menstruasi yang dialami oleh Maimunah berupa sakit perut atau dilepan yang berlebihan. Selain itu, Maimunah juga seringkali merasa lemas dan pucat pada saat menstruasi. Rasa sakit tersebut berlangsung mulai hari pertama hingga hari ketiga/keempat menstruasi. Kondisi tersebut masih berlangsung hingga ia sudah bersuami. Untuk menstruasinya yang terakhir, ia mengalami perdarahan yang lebih banyak dari biasanya. Ia juga mengalami menstruasi yang tidak tepat waktu dan masih mengalami rasa sakit yang berlebihan.

 

Selain masalah menstruasi, Maimunah juga mengalami masalah pada saat hamil. Ia hamil pertama kali pada saat berumur 16 tahun dan kehamilan kedua pada saat berumur 19 tahun. Kehamilan Maimunah tersebut masuk dalam kelompok resiko tinggi. Selain itu, Maimunah juga mengalami kehamilan dalam waktu yang panjang melebihi waktu kehamilan pada umumnya, yaitu 10 bulan pada kehamilannya yang pertama dan 11 bulan pada kehamilannya yang kedua. Selain itu, pada kehamilannya yang kedua, Maimunah mengalami komplikasi. Ia mengalami demam yang sangat tinggi.

 

Maimunah juga mengalami masalah pada saat persalinan. Ia pertama kali melakukan persalinan pada saat ia berumur 17 tahun. Pada saat itu, ia mengaku merasa takut. Ia juga mengalami rasa sakit dan mules. Untuk persalinannya yang pertama, ia melakukannya selama sekitar 2 jam. Sebenarnya, ia mengaku bahwa ia mengalami komplikasi atau gangguan pada saat melahirkan anaknya yang kedua. Pada saat itu, ia mengalami masalah kesehatan berupa mules yang kuat dan teratur lebih dari sehari semalam. Selain itu, Maimunah juga mengalami masalah berupa perdarahan yang lebih banyak dibanding biasanya pada saat nifas. Perdarahan tersebut ia alami lebih dari 3 kali pada masa nifas. Bahkan, ia juga mengalami pingsan.

 

Selain masalah tersebut, Maimunah juga mengaku mengalami masalah dalam penggunaan KB. Ketika ia menggunakan alat KB berupa suntik 3 bulan, Maimunah mengalami masalah berupa berat badannya naik. Ia juga mengalami masalah berupa keluar darah sedikit-sedikit tetapi sangat sakit melebihi pada saat menstruasi hingga 1 bulan. Maimunah kemudian berganti pada suntik 1 bulan. Tetapi, ia masih mengalami masalah berupa ASI kering. Ia kemudian diberi pil KB untuk menyusui. Ternyata, ia juga masih mengalami masalah berupa kepala pusing.

 

Pilihan Pengobatan yang Dilakukan oleh Maimunah

Selama mengalami sakit pada saat menstruasi, Maimunah selalu mengatasinya dengan menggunakan pengobatan tradisional. Ia mengatasinya dengan cara meminum ramuan jamu. Selain itu, ia juga dapat minum kunyit asam yang dibuat sendiri atau sudah diproduksi oleh sido muncul. Selain tindakan tersebut, Maimunah kadang-kadang juga mengatasinya dengan meminum jamu kiranti.

 

Menurutnya, pilihan tersebut merupakan anjuran dari ibunya. Menurut ibu Maimunah, agar menstruasi tidak menimbulkan bau amis, ia harus minum daun sirih yang sudah direbus. Selain alasan tersebut, pemilihan Maimunah untuk mengatasi masalah menstruasi dengan cara tradisional disebabkan oleh pengalaman Maimunah yang sudah sering dan terbiasa mengalami masalah tersebut pada saat menstruasi. Selain itu, ia juga mengaku malas pergi ke dokter atau bidan karena dulu hal tersebut sudah pernah dilakukan tetapi ia masih saja mengalami masalah tersebut. Ia juga merasa malas karena tidak tersedianya bidan atau dokter di desanya sehingga ia harus pergi ke desa tetangga dengan menggunakan ojek. Hal tersebut menyebabkan ia harus mengeluarkan biaya transportasi. Sementara, ia sendiri juga mengalami keterbatasan ekonomi.

 

Tindakan yang sama juga dilakukan oleh Maimunah untuk mengatasi masalah keputihan yang dialaminya. Ia mengatasinya dengan meminum jamu dengan rutin. Selain itu, ia juga rajin membersihkan alat kelaminnya dengan menggunakan sabun sirih.

 

Pada saat kehamilan yang pertama, Maimunah rutin periksa ke bidan karena Bidan menyarankannya untuk rutin mengecek kehamilannya termasuk resti. Selain mengikuti saran bidan, Maimunah juga minum ramuan jamu. Ramuan jamu yang diminum Maimunah berupa kunyit asam. Ramuan tersebut diminum 2 hari sekali. Ramuan tersebut ia minum berdasarkan informasi dari tetangga dan penjual jamu. Menurut mereka, minum jamu tersebut dapat menyebabkan Maimunah merasa lebih segar.

 

Untuk kehamilannya yang kedua, Maimunah mengaku jarang periksa. Ia hanya kadang-kadang memeriksakannya. Ia memilih bidan sebagai tempat pemeriksaan kehamilan anaknya yang terakhir. Ia memilih tempat tersebut karena ia sudah cocok dengan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan tersebut. Ia mengaku bahwa ia tidak membayar biaya apapun untuk pemeriksaan kehamilan tersebut karena ia mempunyai JKJ. Maimunah merasa sudah tahu dan sudah berpengalaman dengan kehamilannya yang pertama. Pada kehamilannya yang kedua, Maimunah juga minum jamu kunyit asam.

 

Pada saat melakukan persalinan, Maimunah memilih untuk melahirkan di rumah. Maimunah memilih untuk dibantu oleh dukun beranak. Pilihan untuk meminta bantuan persalinan ke dukun beranak adalah pilihan Maimunah sendiri. Maimunah merasa takut kalau meminta bantuan persalinan ke bidan. Maimunah merasa trauma dengan cara bidan membantu persalinan kakak iparnya. Pada saat itu, bidan yang menolong kakaknya suka marah-marah. Ketika kakaknya merasa sakit, bidannya mendiamkannya saja. Bidan hanya menyuruhnya untuk menunggu saja padahal kakaknya sudah merasa sangat kesakitan.

 

Selain alasan tersebut, Maimunah merasa susah jika harus datang ke bidan ketika sudah mau melahirkan. Hal tersebut berbeda dengan dukun beranak. Kalau ia meminta bantuan persalinan ke dukun beranak, dukun akan datang ke rumahnya. Menurutnya, dukun beranak juga ramah dan enak. Dukun beranak dapat membuatnya merasa lebih tenang karena orang melahirkan itu harus tenang. Kalau kakak iparnya dulu waktu melahirkan di bidan merasa tidak tenang, karena bidannya marah-marah terus. Akhirnya, kakak Maimunah diam-diam kemudian pulang ke rumah naik ojek. Sesampainya di rumah, ia kemudian melahirkan.

 

Berkaitan dengan persalinan, Maimunah juga meminum ramuan jamu jika ingin proses persalinannya mudah, yaitu kuning telur dan cuka supaya ari-arinya kecil dan supaya anaknya tidak galak dan proses persalinannya mudah.

 

Hambatan Maimunah dalam Mengakses Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Dalam mengatasi masalah kesehatannya, Maimunah mengaku mendapat beberapa masalah atau hambatan. Hambatan yang ia rasakan berupa:

  1. Tidak tersedianya bidan di desa tempat tinggalnya, yaitu desa Tegal Badeng Timur. Tidak tersedianya bidan dan dokter di desanya membuat Maimunah tetap saja harus mengeluarkan biaya atau ongkos untuk transportasi. Ongkos tersebut belum lagi ditambah dengan jajan anaknya yang diajaknya atau diperiksakan. Hal ini menyebabkan Maimunah tidak bisa memeriksakan kehamilannya secara rutin pada saat kehamilannya yang kedua. Ia juga lebih memilih melakukan persalinan ke dukun beranak karena dapat melahirkan di rumah.
  2. Tidak tersedianya alat transportasi di desanya selain ojek. Ketika Maimunah tidak mempunyai uang, maka ia tidak dapat pergi untuk memanfaatkan JKJnya karena ia tidak bisa membayar biaya transportasi yang harus dikeluarkannya.
  3. Tidak tersedianya bidan di desa tempat tinggalnya membuat Maimunah lebih memilih dukun beranak dalam membantu persalinannya. Di desa tempat tinggalnya terdapat dukun beranak sebanyak 3 orang.
  4. Adanya perbedaan ketika berobat dengan menggunakan JKJ dan tidak. Maimunah merasakan bahwa ketika berobat dengan menggunakan kartu JKJ, penyakitnya dirasakan tidak cepat sembuh. Namun, jika ia berobat tidak menggunakan JKJ, ia merasa lebih cepat sembuh. Menurut Maimunah, hal tersebut tidak hanya dirasakan oleh Maimunah saja. Beberapa tetangganya juga merasakan hal yang sama jika berobat dengan menggunakan kartu JKJ. Berkaitan dengan hal tersebut, Maimunah menduga jika obat yang diberikan untuk pasien yang menggunakan kartu JKJ berbeda dengan obat yang diberikan untuk pasien yang tidak menggunakan JKJ. ***

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini