Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Artikel ini adalah ringkasan dari salah satu studi kasus mengenai masalah dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan reproduksi dan ibu melahirkan. Studi kasus diambil dari 7 Kabupaten, yaitu Indramayu, Kota Surakarta, Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Lebak. Di sini dipaparkan kisah kehidupan Ponirah di Lebak, Desa Pasir Tanjung, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.

 

Ponirah dan Riwayat Kesehatan Reproduksinya

Selama menstruasi, Ponirah mengaku sering mengalami masalah terkait dengan menstruasinya. Ia sering mengalami sakit dilepan yang rasanya sangat sakit sebagaimana sakitnya orang melahirkan. Ia merasa mules yang sangat sakit. Ponirah mengatakan bahwa ketika masih gadis, darah menstruasi Ponirah sangat banyak. Namun, ketika sudah menikah, ia mengaku bahwa darah menstruasinya menjadi sedikit.

 

Selain mengalami menstruasi, Ponirah juga mengalami masalah kesehatan pada saat hamil. Masalah yang ia alami adalah berupa sakit selama 1 bulan. Pada saat persalinannya yang pertama, Ponirah mengaku bahwa ia merasa mules-mules. Rasa mules tersebut ia rasakan sejak pagi hari. Saat itu juga, suaminya memanggil paraji. Namun, bayi yang dikandungnya belum juga keluar. Bayinya baru keluar ketika sudah sore hari. Akan tetapi, kelahiran bayinya tidak normal. Ketidaknormalan tersebut disebabkan oleh pantat bayi yang keluar terlebih dahulu bukan kepalanya. Ketika pantatnya keluar dulu, kepala bayi Ponirah menyangkut selama 2 jam. Akhirnya, bayinya tidak bisa bernafas dan kemudian meninggal dunia.

 

Masalah lain terkait dengan kesehatan reproduksinya adalah berupa pusing dan pendarahan pada saat menggunakan alat KB berupa pil. Ponirah kemudian menggantinya dengan menggunakan KB suntik. Namun, ia mengaku merasa bahwa mesntruasinya menjadi tidak teratur. Bahkan, ia merasa kadang-kadang darah menstruasinya hanya keluar sedikit saja. Padahal, sebelum memakai KB suntik, Ponirah biasanya mengalami menstruasi paling lama 1 minggu.

 

Pilihan Ponirah dalam Mengatasi Masalah Kesehatannya

Ketika mengalami masalah menstruasi, Ponirah mengaku tidak memeriksakan ke bidan. Ia juga tidak pergi ke fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Ia mengaku hanya mengatasinya dengan meminum jamu. Ia juga kadang mengatasinya dengan meminum sprite. Ponirah merasa cocok dengan cara tersebut. Menurut Ponirah, cara tersebut ia dapat dari temannya.

 

Pada saat mengalami kehamilan, Ponirah biasanya melakukan pemeriksaan ke bidan di Posyandu. Ia mengaku rutin memeriksakan kandungannya ke bidan di Posyandu dalam setiap bulannya. Namun, ia juga memeriksakan kandungannya ke paraji ketika usia kandungannya memasuki 4 bulan. Hal ini sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan masyarakat di desanya. Perempuan yang hamil di bawah 4 bulan belum boleh memeriksakan kandungannya ke paraji. Menurut mitos yang beredar, kandungan yang berumur 3 bulan masih berupa darah, jadi tidak boleh dipijat. Ketika periksa ke paraji, kandungannya diurut oleh paraji kemudian di gedog.

 

Ketika melahirkan, Ponirah ditolong oleh paraji. Untuk persalinannya yang kedua, Ponirah juga memilih untuk meminta bantuan kepada paraji meskipun ia sudah mendengar dan mengetahui jika menggunakan gakin, maka biaya untuk proses melahirkan di bidan bisa gratis. Ia merasa sudah terbiasa dengan pelayanan paraji dalam menolong persalinan dibanding bidan.

 

Pada saat mengalami masalah berupa pusing dan pendarahan pasca penggunaan KB berupa pil, Ponirah mengaku tidak memeriksakannya ke bidan. Ia juga tidak meminta pelayanan ke paraji. Ia mengatasi sendiri masalah pendarahan tersebut dengan meminum jamu. Untuk mengatasi masalah pusing yang ia rasakan, ia hanya mengatasinya dengan membeli obat sakit kepala di warung. Ia selanjutnya memilih untuk tidak lagi menggunakan alat kontrasepsi. Namun, Setelah proses persalinannya yang kedua, Ponirah mencoba kembali untuk menggunakan alat kontrasepsi berupa suntik 3 bulan ke bidan.

 

Hambatan Ponirah dalam Mengatasi Masalah Kesehatannya

Dalam mengatasi masalah kesehatan reproduksi yang dialaminya, Ponirah mengaku mengalami beberapa masalah atau hambatan dalam mengakses fasilitas pelayanan kesehatan atau tenaga kesehatan.

 

Ponirah mengaku kesulitan dalam mengakses bidan karena tidak ada satupun bidan yang tinggal di desanya. Bidan desa yang bertugas di wilayah kerja desanya tinggal di daerah perkotaan. Hal ini menyebabkan ia hanya bisa mengakses bidan ketika ada kegiatan posyandu yang dilaksanakan selama 1 bulan sekali. Ia kadang-kadang bisa mengakses bidan ketika bidan bertugas di pustu yang ada di desanya. Menurut Ponirah, keberadaan bidan desa di pustu tersebut jarang sekali.

 

Tidak tersedianya bidan di desanya, menyebabkan Ponirah harus mengakses bidan di desa tetangganya atau di Kota. Jarak antara desa dengan desa tetangganya tersebut adalah 2 km. Jarak tersebut tidak bisa dilalui oleh sarana transportasi umum. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya sarana transportasi umum yang tersedia di desanya. Ia hanya bisa menggunakan ojek. Kondisi ini menjadi sangat susah bagi dirinya yang sedang mengalami kehamilan karena adanya kondisi geografis yang sulit di desanya. Kondisi desa Ponirah berupa pegunungan dengan jalanan naik turun yang sangt curam. Sementara, jalanan di desanya belum seluruhnya berupa aspal. Jalanan di desanya masih berupa bebatuan dan sangat licin ketika terjadi hujan. Selain itu, kondisi jalanan yang dilewatinya ketika menuju ke desa tetangganya adalah hutan dan perkebunan yang terkenal tidak aman dan sangat rawan dengan tindakan kriminalitas. Hal lain yang membuat Ponirah terhambat untuk mengakses bidan adalah jika ia tidak mempunyai biaya untuk transportasi menuju bidan di desa tetangga tersebut atau di perkotaan.

 

Tidak adanya bidan di desa Ponirah tersebut juga mendasari pilihannya untuk meminta bantuan persalinan di paraji meskipun ia tahu bahwa persalinan di bidan gratis karena ia mempunyai kartu gakin. Tetapi, tidak adanya bidan tersebut dan sulitnya akses untuk mencari bidan tersebut kemudian membuat Ponirah lebih memilih paraji. Sementara, paraji di desa tempat tinggal ada sekitar 5 orang. ***

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini