Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Pada 30 September 2005 WRI berkesempatan untuk mengadakan diskusi membahas buku Metode-metode Feminis dalam Penelitian Sosial karya Shulamit Reinharz. Melalui buku ini diharapkan para peneliti dapat menemukan model penelitian feminis dalam pengembangan Ilmu-ilmu sosial. 

 

Shulamit Reinharz dalam bukunya tentang Metode-metode Feminis dalam Penelitian Sosial yang merupakan terjemahan dari buku aslinya Feminist Methods in Social Research menyebutkan, penelitian feminis adalah metode penelitian yang mempertanyakan persoalan-persoalan identitas dan persoalan-persolan keberbedaan. Hal inilah yang membuat penelitian feminis ini menjadi berbeda dengan metode penelitian lainnya. Yang membuat buku ini sangat menarik adalah pilihannya pada “feminis yang melakukan penelitian” dan bukan “metode penelitian feminis” (h. 6). Kami rasa pilihan ini mencerminkan salah satu perdebatan penting dalam dunia penelitian yakni dikotomi subjektifitas dan objektifitas peneliti. Shulamit Reinharz tampaknya menyadari bahwa dengan menentukan “penyebutan diri dengan sengaja” sebagai feminis akan membatasi pilihan karya-karya yang akan ia kaji. Tapi di sisi lain ia memilih pijakan yang berharga dan memungkinkan kita melihat kedalaman sekaligus keluasan ragam pemikiran feminis serta pilihan masalahnya.

Dalam diskusi Kamisan kali ini akan dibongkar mengenai isu hetero-normativitas, khususnya dalam kerja seksual. Diskusi diadakan di kantor WRI di Jakarta pada 20 Januari 2011. Adapun pembicara yang dihadirkan adalah Irwan M Hidayana, seorang peneliti pada Pusat Kajian Seksualitas dan Gender FISIP UI; dan Myra Diarsi dari WRI sebagai moderator diskusi. 

 

Hetero-normativitas sebagai norma patokan relasi seksual antara laki-laki dan perempuan dalam kebijakan maupun praktik sosial. Patokan tersebut berperan menguatkan bentukan pemahaman dan opini masyarakat mengenai seksualitas, sehingga mereka yang tidak termasuk di dalam norma tersebut acapkali disingkirkan, tidak mempunyai ruang dan menjadi sasaran tindak kekerasan dan diskriminasi.

Anggaran berkeadilan gender merupakan alat untuk membangun kesetaraan, keseimbangan dan keadilan gender. Selain itu anggaran berkeadilan gender seharusnya juga merupakan kebutuhan pemerintah pusat dan daerah untuk segera dilaksanakan, seiring dengan keluarnya beberapa kebijakan pengarusutamaan gender. Pentingnya anggaran berkeadilan gender telah mendorong berbagai NGO untuk melaksanakan advokasi guna mendorong pemerintah baik pusat maupun daerah mengimplementasikan kebijakan pengarusutamaan gender dalam rangka mengentaskan kemiskinan di Indonesia, dimana perempuan termasuk di dalamnya.

Saat kasus video porno Ariel Peterpan sedang marak di media, bagaiamana tanggapan feminis dan peserta diskusi mengenai hal tersebut? Pada diskusi kamisan kali ini tema yang diangkat adalah seksualitas dan hak privasi dengan melihat pada studi kasus Ariel Peterpan. Diskusi diadakan pada 10 Februari 2011 di Jakarta. Pembicara yang dihadirkan kali ini adalah Nursyahbani Katjasungkana, Pendiri Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Anggota DPR RI 2004-2009 Komisi Hukum, HAM dan Keamanan, Fraksi Kebangkitan Bangsa. Sedangkan moderator diskusi kali ini adalah Myra Diarsi dari Women Research Institute.

Tema diskusi kamisan pada 3 Maret 2011 adalah Gender dan Keragaman Orientasi Seksual. Seks, gender dan orientasi seksual dalam masyarakat bukan hanya terpaut pada relasi antara laki-laki dan perempuan atau maskulin-feminin seperti apa yang dikonstruksikan. Melalui diskusi ini kita akan melihat fakta beberapa orientasi seksual dan posisinya dalam masyarakat Indonesia. Pembicara diskusi ini adalah Agustine (Ardhanary Institute).

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini