Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Editorial

  • Dampak Konsesi Hutan terhadap Kehidupan Perempuan

    Data Global Forest Watch (GFW) mencatat hilangnya Tutupan Pohon di Lahan Gambut di Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Siak, Riau. Hal ini berpotensi terhadap terjadinya kebakaran hutan yang berangsur lama. Jumlah hutan yang terdegrasi proporsinya jauh lebih banyak dibandingkan hutan murni. Perempuan yang tergantung pada kondisi hutan akan mengalami dampak yang berkepanjangan di masa mendatang. Laju deforestasi yang semakin cepat per tahunnya di picu oleh banyaknya izin konsesi yang diberikan pada perusahaan-perusahaan perkebunan dan kehutanan, mengakibatkan akses masyarakat terhadap hutan dan sumber daya alam juga semakin terbatas.

Kegiatan Monitoring dan Evaluasi program Kesehatan Reproduksi di Bandung pada Selasa-Rabu, 29-30 April 2014 dihadiri oleh Rahayuningtyas (Koordinator Program Kesehatan Reproduksi Remaja WRI) dan Benita Nastami (Peneliti WRI). Tujuan dilakukan kegiatan ini adalah untuk mengetahui perkembangan pelaksanakan program yang dilakukan WRI di Bandung serta mengetahui pencapaian serta kendala yang mungkin dihadapi. 

 

Kegiatan yang dilakukan sejak Maret 2014:

  1. Mengunjungi Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Kota Bandung untuk menemui Kasubbid Perlindungan Kesehatan Reproduksi, Kasubbid Informasi dan Kabid Pengendalian Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. BPMPKB Kota Bandung mendukung kegiatan WRI di Kota Bandung dan berharap bisa bekerjasama dan bermitra untuk menjadikan remaja Kota Bandung sadar akan Kesehatan Reproduksinya
  2. Mengunjungi Dinas Kesehatan Kota Bandung untuk menemui Bagian Umum untuk menjajaki kemungkinan kerjasama untuk mendapatkan data-data mengenai kesehatan remaja.
  3. Mengunjungi Dinas Pendidikan Kota Bandung untuk menemui Kasubbag Umum dan Kepegawaian dan Kasie Dikmas dan Seni Budaya. Dinas Pendidikan berharap kegiatan yang akan dilaksanakan di sekolah disesuaikan dengan kalender pendidikan
  4. Mengunjungi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Jawa Barat untuk menemui bagian Perijinan untuk meminta ijin melakukan penelitian.
  5. Mengunjungi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) untuk menemui Kasub TU P2TP2A. WRI dan P2TP2A berharap bisa bekerjasama dalam peningkatan kesadaran remaja akan kesehatan reproduksi dan remaja memahami UU KDRT
  6. Mengunjungi Biro Pusat Statistik Kota Bandung untuk mendapatkan buku “Bandung Dalam Angka Tahun 2013”.
  7. Melakukan pertemuan dengan beberapa LSM di Kota Bandung, seperti Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dan Saudara Sejiwa Foundation (SSF).

 

Selain itu Program Officer (PO) WRI di Kota Bandung juga sudah melakukan pendekatan dengan beberapa stakeholder yang akan menjadi mitra dalam program WRI, yaitu: 

  1. Kelurahan Gumuruh, pendekatan dilakukan dengan mendatangi Kantor Kelurahan dan bertemu langsung dengan Bapak Lurah Gumuruh. Beliau mendukung kegiatan WRI dan memberikan rekomendasi untuk melakukan kegiatan di RW.VII dan RW.XI Gumuruh. PO Bandung langsung menemui Ketua RW.VII dan RW.XI Gumuruh dan mendapat sambutan positif sehingga langsung direkomendasikan untuk menemui Ketua Karang Taruna di RW.VII Gumuruh. Sayangnya kelanjutan dari RW.XI agak lama dan belum ada sambutan baik dari pihak remaja RW.XI sehingga kegiatan difokuskan terlebih dahulu di RW.VII. Dibentuk organisasi remaja bernama GOAL (Gerak cepat Optimis Aktif Langsung)

  2. Kelurahan Cibangkong, pendekatan yang dilakukan di Kelurahan juga mendatangi Kantor Lurah untuk menemui Bapak Lurah Cibangkong dan menceritakan kegiatan yang akan dilakukan WRI. Kegiatan ini disambut baik oleh Kepala Lurah Cibangkong yang memang merasa perlu adanya kelompok remaja peduli kespro di setiap kelurahan. Akhirnya direkomendasikan RW.VII Kelurahan Cibangkong untuk berkegiatan karena dinilai remaja disana aktif dan membutuhkan masukan informasi terkait Kespro Remaja. Akhirnya dibentuklah kelompok yang diberi nama CURUK (Cerdas Ulet Rajin Usaha Kreatif)

  3. SMKN 3 Bandung, pendekatan yang dilakukan ke SMKN 3 Bandung agak berbeda dengan dua kelompok sebelumnya. PO Bandung mendatangi SMKN 3 Bandung untuk menyerahkan surat permohonan pembentukan kelompok remaja peduli kespro di sekolah tersebut. Pihak sekolah menyetujui untuk dibentuk kelompok remaja di sana.

 

Kegiatan Monitoring dan Evaluasi Program

 

Kegiatan monitoring dan evaluasi program pertama kali dilakukan di SMKN 3 Bandung, kebetulan di saat yang bersamaan merupakan pertemuan pertama dengan siswa-siswi di sana untuk pembentukan kelompok remaja. Kegiatan dilakukan di ruangan pertemuan di SMKN 3 Bandung dengan didampingi oleh Bapak Wakil Kepala SMKN 3 Bandung. Berkat dukungan yang baik dari pihak sekolah, pembentukan kelompok remaja tidak menemukan kendala yang berarti, antusias siswa-siswi cukup tinggi, terbukti dengan jumlah siswa yang hadir melebihi 60 orang.

 

Selain perkenalan dengan program WRI, dibentuk pula kelompok remaja Laskar Peduli Kespro (LPK) yang nantinya akan berkegiatan rutin dengan WRI. Kelompok LPK terdiri dari 30 anak dengan struktur pengurus 1 ketua, 1 sekertaris, dan 1 bendahara. Harapannya kegiatan ini bisa dilakukan secara rutin, mengingat pengalaman SMKN 3 Bandung yang banyak dikunjungi berbagai lembaga yang mengajak kerjasama di kegiatan serupa namun tidak berjalan dengan baik. Pihak sekolah juga berharap agar kegiatan ini bisa dilakukan dengan melibatkan lebih banyak siswa misalnya dari ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) karena mereka juga dianggap membutuhkan informasi terkait Kespro remaja.

 

Kelompok Cerdas Ulet Rajin Usaha Kreatif (CURUK) di RW.VII Kelurahan Cibangkong melakukan kegiatan diskusi dengan pengurus dan beberapa anggota kelompok yang berjumlah 6 orang. Sehari sebelumnya sudah dilakukan diskusi antara PO Bandung dengan kelompok CURUK untuk membahas struktur pengurus dan agenda diskusi. Kelompok CURUK merupakan bagian dari Karang Taruna sehingga kepengurusannya dibuat berbeda dengan Karang Taruna yang sudah ada.

 

Kegiatan rutin yang sudah ada di kelompok Karang Taruna RW.VII Kelurahan Cibangkong adalah acara pentas kesenian, mereka mengembangkan seni musik sunda untuk anggota Karang Taruna yang tertarik berlatih, mereka sudah sering mendapat undangan untuk mengisi acara di sekitar Kota Bandung.

 

Permasalahan remaja di wilayah kerja kelompok CURUK adalah pernah ditemukan kasus Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) yang terjadi pada siswa SMP yang menyebabkan siswa tersebut harus dikeluarkan dari sekolahnya dan tidak bisa meneruskan pendidikannya.Kelompok remaja CURUK menyadari pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif mengingat banyaknya “ancaman” dari lingkungan sekitar yang bisa menyebabkan remaja terjerumus dan kehilangan masa depan akibat kurangnya informasi yang diberikan.

 

Sementara Kelompok Gerak cepat Optimis Aktif Langsung (GOAL) di RW.VII Kelurahan Gumuruh. Serupa dengan kelompok remaja CURUK, di kelompok remaja GOAL juga terdiri dari remaja di Karang Taruna RW.VII Kelurahan Gumuruh yang sudah berkegiatan rutin seperti minggu bersih yaitu kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan yang dilakukan remaja, kegiatan rutin perlombaan 17 Agustus untuk memperingati Kemerdekaan Indonesia, dll.

 

Banyak remaja yang sangat aktif dan mau terlibat dalam organisasi remaja seperti karang taruna dan remaja masjid, tapi ada juga yang ikut hanya sekadarnya dan hadir tidak rutin, bahkan ada pula yang tidak mau terlibat dalam organisasi remaja.

 

Pemukiman padat penduduk bisa menjadi salah satu penyebab banyaknya kasus remaja. Pernah ditemukan kasus kehamilan di luar nikah, dan kasus remaja lainnya. Banyak remaja yang kurang memiliki keterampilan dan kurang pendidikan sehingga tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

 

Kelompok GOAL merasa perlu untuk memperoleh pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif sehingga kasus-kasus yang terjadi di lingkungan mereka bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan sama sekali. Mereka juga berharap akan ada pelatihan untuk mengembangkan keterampilan remaja khususnya untuk remaja putus sekolah sehingga mereka memiliki keterampilan tertentu sehingga dapat bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya. ***

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini