Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Editorial

  • Dampak Konsesi Hutan terhadap Kehidupan Perempuan

    Data Global Forest Watch (GFW) mencatat hilangnya Tutupan Pohon di Lahan Gambut di Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Siak, Riau. Hal ini berpotensi terhadap terjadinya kebakaran hutan yang berangsur lama. Jumlah hutan yang terdegrasi proporsinya jauh lebih banyak dibandingkan hutan murni. Perempuan yang tergantung pada kondisi hutan akan mengalami dampak yang berkepanjangan di masa mendatang. Laju deforestasi yang semakin cepat per tahunnya di picu oleh banyaknya izin konsesi yang diberikan pada perusahaan-perusahaan perkebunan dan kehutanan, mengakibatkan akses masyarakat terhadap hutan dan sumber daya alam juga semakin terbatas.

Hasil penelitian terhadap akses dan pemanfaatan layanan bagi perempuan miskin di tujuh kabupaten menunjukkan bahwa layanan dan pemanfaatan  kesehatan reproduksi, khususnya untuk kesehatan ibu miskin, masih sangat rendah. Lebih jauh, alokasi anggaran untuk layanan kesehatan ibu dan kesehatan reproduksi di wilayah penelitian tidak lebih dari 2% dari anggaran kesehatan daerah. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa belum ada kebijakan yang terkait dengan kesehatan ibu dan kesehatan reproduksi di wilayah penelitian.

 

WRI saat ini memiliki data yang ekstensif terkait layanan kesehatan reproduksi di tujuh wilayah. Data ini dapat dikembangkan sebagai basis data mengenai layanan kesehatan reproduksi. Data ini juga dapat dipakai sebagai rujukan bagi publikasi bertemakan Layanan Kesehatan Perempuan yang digali melalui diskusi dengan para ahli.

 

Lokakarya dengan para pemangku kepentingan lokal di tujuh wilayah penelitian telah membuat para pemangku kepentingan menunjukkan sikap yang baru dalam mengaplikasikan anggaran berkeadilan gender dan alat perencanaan yang sensitif gender dalam mengidentifikasi apakah layanan kesehatan mereka telah pro perempuan miskin.

 

Selama 2007, WRI juga melatih para pemangku kebijakan dari 15 wilayah yang berbeda mengenai advokasi anggaran dan kebijakan untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak. Capaian dari program ini, i.e. alokasi anggaran yang meningkat di 15 wilayah, analisis anggaran yang terkait layanan kesehatan bagi ibu dan anak di 15 wilayah, dan modul advokasi mengenai kebijakan dan analisis anggaran untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. Seperangkat alat atau instrumen ini juga digunakan untuk mengawasi dan mengevaluasi kebijakan dan alokasi anggaran di tujuh wilayah penelitian WRI. Pada akhirnya, tools ini juga dapat membantu WRI mencapai tujuan jangka panjang untuk memperbaiki kondisi dan posisi perempuan di Indonesia.

 

Kapasitas para peneliti WRI dalam melakukan penelitian ditingkatkan melalui pelatihan intensif dengan konsultan penelitian pada tahap perancangan metodologi penelitian selama periode penelitian ini. Kapasitas staf WRI terkait dengan analisis anggaran gender juga ditingkatkan melalui komunikasi dan pertukaran informasi yang intensif dengan Debbie Budlender dari International Budget Program, Afrika Selatan.


Aktivitas/ Permasalahan yang Teridentifikasi


Penelitian di lima wilayah yang meliputi Mataram (Lombok), Surakarta (Jawa Tengah), Kupang (Timor Barat), Subang (Jawa Timur), dan Jembrana (Bali) ditujukan untuk meneliti:

  • Apakah alat alokasi anggaran yang sensitif gender dari WRI dapat menghasilkan perubahan dalam sikap dan praktik para pembuat kebijakan lokal yang nantinya akan menghasilkan alokasi anggaran konkrit yang membuka akses bagi para perempuan miskin terhadap tiga hak dasar: pendidikan, layanan kesehatan, dan kesempatan kerja (pekerjaan);
  • Bentuk-bentuk hambatan yang membatasi kemampuan perempuan untuk keluar dari kemiskinan terkait dengan tiga area yang disebutkan sebelumnya yaitu, pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja;
  • Bentuk-bentuk rencana program pendukung termasuk bantuan teknis dalam mengawasi alokasi anggaran berkeadilan gender yang dapat meningkatkan akses atas pendidikan, kesehatan, dan kesempatan kerja dengan meminimalkan hambatan-hambatan yang telah disebutkan sebelumnya.
  • Pengembangan kapasitas internal bagi staf WRI khususnya dalam memproses, mentabulasi, dan menganalisis data kualitatif dan kuantitatif dari sumber primer dan sekunder seperti dari Badan Pusat Statistik.
  • Kunjungan belajar komparatif ke India, Korea, dan Brazil.

 

Aktivitas/Isu yang Ditangani


Seperti yang telah disebutkan dalam laporan sebelumnya, penelitian ini dilaksanakan di tujuh wilayah. Pada periode pelaporan, pelaksanaan aktivitas penelitian di tujuh wilayah telah selesai dilaksanakan. Oleh karena itu, WRI telah memiliki data terkait akses dan pemanfaatan layanan kesehatan bagi perempuan miskin di tujuh wilayah.

 

Data ini mencakup kebijakan yang terkait dengan kesehatan reproduksi, khususnya kesehatan ibu, fakta-fakta terkait layanan kesehatan bagi perempuan miskin dan fakta-fakta dari penyedia layanan kesehatan, serta fakta-fakta terkait alokasi anggaran bagi layanan kesehatan khususnya yang terkait dengan kesehatan reproduksi dan kematian ibu dan bayi di tujuh wilayah penelitian. WRI telah menyelenggarakan FGD di empat wilayah penelitian untuk mendiskusikan laporan awal penelitian ini dengan para pemangku kepentingan (para pembuat kebijakan lokal dan masyarakat) yang mencakup pula evaluasi atas anggaran dan kebijakan yang terkait dengan layanan kesehatan ibu/layanan kesehatan reproduksi. WRI juga menyelenggarakan Panel Delphi dengan beberapa ahli untuk mendiskusikan laporan penelitian awal ini.


Lokakarya dengan para pemangku kepentingan di Jakarta (para pembuat kebijakan lokal dan masyarakat umum) untuk menyampaikan laporan penelitian awal WRI adalah sebuah cara untuk mendapatkan masukan dari para pemangku kepentingan guna memperkaya analisis awal yang dilakukan oleh WRI. Saat ini, data terkait alokasi anggaran untuk layanan kesehatan di tujuh wilayah menunjukkan bahwa kurang dari 9% atau hanya sekitar 5.8-8.9% dari total APBD yang dialokasikan untuk layanan kesehatan. Menurut MDGs, pengeluaran untuk kesehatan yang ideal adalah Rp. 120.000,00 per kapita. Sedangkan pada kenyataannya, pengeluaran kesehatan di sebagian besar wilayah di Indonesia adalah Rp. 40.000,00 per kapita. Hanya Jembrana saja yang telah mampu memenuhi kriteria ideal MDGs yaitu dengan mengalokasikan Rp. 151.000,00 per kapita. Lain halnya dengan Jembrana, Indramayu yang memiliki tingkat kematian ibu sebesar 281/100.000 hanya mengalokasikan Rp. 41.000,00 per kapita. Data terkait alokasi anggaran untuk layanan kesehatan bagi perempuan untuk tahun 2007 menunjukkan bahwa anggaran yang dialokasikan hanya sebesar 2% saja atau antara 0-1.76%.

 

Data mengenai hambatan-hambatan yang membatasi perempuan terkait dengan layanan kesehatan reproduksi di tujuh wilayah menunjukkan bahwa hambatan yang dihadapi meliputi terbatasnya jumlah tenaga ahli kesehatan khususnya bidan dan ginekolog, infrastruktur yang buruk (layanan transportasi dan kondisi jalan yang buruk), keterbatasan alat untuk menyediakan layanan kesehatan yang baik, mahalnya biaya layanan kesehatan yang harus dibayar oleh perempuan miskin, dan distribusi asuransi kesehatan bagi kaum miskin yang tidak merata.

 

Data mengenai bentuk-bentuk rencana program pendukung dari tujuh wilayah menunjukkan bahwa sebagian besar subjek penelitian ini merekomendasikan bantuan teknis dalam memonitor anggaran berkeadilan gender yang dapat meningkatkan akses atas kesehatan dengan meminimalkan hambatan-hambatan yang dihadapai.

 

Terkait pengembangan kapasitas bagi staf WRI, khususnya dalam memproses, mentabulasi, dan menganalisis data kuantitatif dan kualitatif dari sumber primer dan sekunder seperti data BPS, saat ini prosesnya masih berlangsung. Para peneliti WRI juga melakukan beberapa kali diskusi mengenai rancangan penelitian dan temuan awal dengan Besral dan ahli statistik serta dosen dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dalam kurun waktu Januari hingga Juni 2008. Selama proses penulisan dan analisis untuk laporan awal, WRI juga berdiskusi secara intensif mengenai metodologi dan isu-isu kesehatan reproduksi dengan dr. Roy Tjiong (dewan anggota IIPPF) dan Prof. Dr. Gulardi Wignyosastro (POGI). Dengan tujuan untuk menyediakan masukan bagi pengumpulan data dan temuan awal penelitian WRI, divisi penelitian telah menyelenggarakan diskusi dengan ahli-ahli di bidang gender dan isu-isu kesehatan reproduksi sekaligus para ahli penelitian sosial dan analisis anggaran seperti Yanti Muchtar, Ninuk Widyantoro, Myra Diarsi, Yuna Farhan, dan Dr. Alexander Irwan.


Dilaporkan dalam laporan sebelumnya bahwa kunjungan belajar telah diubah dari Brazil ke Meksiko dan kunjungan belajar di Korea dibatalkan guna memungkinkan WRI untuk mengirimkan lebih banyak stafnya untuk mengunjungi India. Kunjungan belajar ini dilaksanakan untuk belajar mengenai mekanisme partisipatif dalam melibatkan perempuan dalam politik dan belajar mengenai kesuksesan mereka dalam meningkatkan anggaran untuk pemberdayaan perempuan di India. Sedangkan kunjungan belajar ke Fundar di Meksiko ditujukan untuk belajar dari pengalaman mereka dalam melibatkan partisipasi para pemangku kepentingan khususnya perempuan, dalam meningkatkan layanan kesehatan bagi perempuan di Meksiko. Laporan kegiatan ini akan dilaporkan secara terpisah.


Indikator Kesuksesan


Setidaknya di 3 wilayah dari 5 wilayah penelitian, pemangku kepentingan lokal merestrukturisasi alokasi APBD untuk memenuhi tiga hak dasar perempuan atas pendidikan, layanan kesehatan, dan kesempatan kerja yang sama;

  • Tersedianya seperangkat instrumen untuk mengawasi dan mengevaluasi hasil-hasil alokasi anggaran berkeadilan perempuan di masing-masing wilayah;
  • Meningkatknya keterampilan staf WRI dalam melakukan survei dan mengumpulkan data kualitatif yang dikonfirmasi oleh peneliti senior dari University of Sydney yang berperan sebagai mentor;
  • Publikasi dan sosialisasi laporan penelitian, laporan perjalanan, dan kertas kerja mengenai alokasi anggaran berkeadilan gender melalui website dan jurnal WRI.

 

Hasil Aktual yang Dicapai Hingga Saat ini


Sampai saat ini, para pemangku kepentingan lokal dari tujuh wilayah penelitian WRI telah mengevaluasi alokasi anggaran daerah untuk memenuhi kebutuhan dasar perempuan atas layanan kesehatan. Empat dari tujuh wilayah telah duduk bersama untuk mendiskusikan adanya kebutuhan untuk merestrukturisasi alokasi anggaran daerah untuk layanan kesehatan reproduksi perempuan.

 

WRI juga telah mengembangkan seperangkat instrumen untuk mengawasi dan mengevaluasi alokasi anggaran dengan menggunakan perspektif gender dan seperangkat instrumen ini telah diujicobakan di 15 wilayah di Indonesia. Seperangkat instrumen ini juga sedang digunakan untuk mengevaluasi alokasi anggaran di tujuh wilayah penelitian WRI. Seperangkat instrumen ini berbentuk Modul Anggaran dan Kebijakan untuk Penurunan Angka Kematian Ibu dan Anak.


Para peneliti WRI juga telah meningkatkan keterampilan mereka dalam melakukan survei dan mengumpulkan data kualitatif yang menjadi bekal mereka untuk menghasilkan data ekstensif terkait akses dan pemanfaatan layanan kesehatan bagi perempuan miskin. Data ini khususnya adalah data yang terkait dengan layanan kesehatan reproduksi, i.e. layanan kesehatan ibu.

 

Pada Mei 2008, WRI mempublikasikan sebuah kompilasi artikel dengan judul Bertahan Hidup di Desa atau Bertahan Hidup di Kota: Balada Buruh Perempuan. Segala publikasi dan laporan WRI dapat diakses di website WRI.


Tujuan yang Ingin Dicapai


Untuk mengembangkan sebuah agenda penelitian yang berfokus terhadap dampak kebijakan desentralisasi bagi partisipasi perempuan dalam politik.

 

Tujuan yang Dicapai Hingga Saat Ini


Selama periode pelaporan, WRI telah mengembangkan agenda penelitiannya yang berfokus atas dampak kebijakan desentralisasi bagi perempuan. Data yang sedang dikumpulkan menyediakan sebuah gambaran mengenai akses dan pemanfaatan layanan kesehatan pada era desentralisasi khususnya gambaran yang terkait layanan kesehatan reproduksi bagi perempuan miskin. Kemampuan perempuan untuk menyuarakan kebutuhannya dapat dilihat juga sebagai sebuah upaya untuk berpartisipasi secara politis dengan menunjukkan keprihatinan mereka atas kualitas layanan kesehatan dan alokasi anggaran. WRI telah mengumpulkan data tersebut dari tujuh wilayah selama periode pelaporan dengan berfokus pada isu layanan kesehatan, khususnya yang mencakup layanan kesehatan reproduksi bagi perempuan miskin. ***



Women Research Institute
Januari - Juni 2008

 

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini