Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Editorial

  • Dampak Konsesi Hutan terhadap Kehidupan Perempuan

    Data Global Forest Watch (GFW) mencatat hilangnya Tutupan Pohon di Lahan Gambut di Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Siak, Riau. Hal ini berpotensi terhadap terjadinya kebakaran hutan yang berangsur lama. Jumlah hutan yang terdegrasi proporsinya jauh lebih banyak dibandingkan hutan murni. Perempuan yang tergantung pada kondisi hutan akan mengalami dampak yang berkepanjangan di masa mendatang. Laju deforestasi yang semakin cepat per tahunnya di picu oleh banyaknya izin konsesi yang diberikan pada perusahaan-perusahaan perkebunan dan kehutanan, mengakibatkan akses masyarakat terhadap hutan dan sumber daya alam juga semakin terbatas.

Sebagai lembaga penelitian yang memperjuangkan terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil gender, Women Research Institute (WRI) mengadakan pendalaman pemahaman metodologi feminis dan analisa gender di Jakarta pada 13-15 Maret 2013. Metodologi feminis menjadi begitu penting karena dapat membantu dan memberikan kerangka kerja bagi kita yang sedang bekerja dan menaruh perhatian pada persoalan perempuan. Metode ini mengingatkan kita perlu menghargai keanekaragaman pandangan dan pendapat dan tidak ada kebenaran mutlak terhadap segala sesuatu. Cara pandang ini mengkritisi metode yang selama ini digunakan, terutama penelitian sosial ataupun penulisan ilmiah yang percaya bahwa kuantitas dapat merujuk kepada adanya kebenaran sosial.

 

Lebih lanjut program pendalaman pemahaman metodologi feminis dan analisa gender ini bertujuan untuk menguatkan kemampuan analisis gender untuk temuan penelitian maupun kajian isu perempuan dan/ atau gender lainnya agar hasil penelitian berkualitas dan dapat memberikan masukan kepada para pengambil kebijakan.

 

Tujuan Kegiatan

  1. Meningkatkan pemahaman peserta terhadap cara mengenali teori feminis dan pilihan metodologinya yang berkaitan dengan persoalan perempuan dan ilmu pengetahuan lainnya.

  2. Memahami aspek-aspek analisis gender secara komprehensif dengan saling berbagi informasi dan pengalaman antar peserta.

  3. Meningkatkan kapasitas peserta yang berkecimpung dalam sektor pengembangan pengetahuan.

  4. Mengembangkan jaringan forum belajar metodologi di kalangan peneliti.

 

Fasilitator & Pemateri: 

Sita Aripurnami, M.Sc (Direktur Eksekutif WRI), Edriana Noerdin, MA (Direktur Program WRI), Dr. Widjajanti Isdijoso Suharyo (Deputy Director SMERU Research Institute), Dr. Chusnul Mariyah (Dosen Politik FISIP Universitas Indonesia), dan Dr. Lugina Setyowati (Dosen Sosiologi FISIP Universitas Indonesia).

 

Proses Pelatihan, Jakarta 13-15 Maret 2013

Pengantar

WRI telah menyelenggarakan kegiatan Capacity building mengenai pelatihan Pendalaman Pemahaman Metodologi Feminis dan Analisa Gender yang didukung oleh Program Representasi (ProRep) – Chemonics International – USAID. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong dan menguatkan kapasitas para peneliti agar memiliki kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan untuk melakukan penelitian dan mengembangkan kemampuannya tersebut.

 

Peserta pelatihan berjumlah 15 orang terdiri dari 14 perempuan dan satu laki-laki berasal dari lembaga peneltian, universitas dan peserta umum yang tertarik memperdalam metodologi feminis dan analisa gender. Selain WRI, peserta berasal dari Balitbangkes, Center for Detention Studies, Seknas Fitra, Aliansi Remaja Independen, juga peserta dari Universitas Paramadina, Stikes Bhakti Pertiwi Indonesia dan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA). Ditambah dua orang peserta umum/independen.

 

Prasyarat bagi peserta yang mengikuti kegiatan adalah yang mempunyai pengalaman pernah melakukan penelitian. Hal ini penting agar dapat terjadi pertukaran pengalaman ketika melakukan penelitian. Selain itu, peserta akan didorong untuk menelaah secara kritis tentang temuan data penelitian dengan menggunakan perspektif feminis.

 

Pendekatan Pelatihan

Kegiatan ini menggunakan metode ceramah, simulasi serta diskusi kelompok. Setiap sesi dipandu seorang fasilitator, fasilitator diharapkan dapat merangsang peserta untuk memiliki kerangka konseptual dan analisis yang tajam dalam membaca realitas sosial yang dihadapi perempuan.

 

Dalam menyelenggarakan kegiatan ini, penting untuk mengetahui bagaimana pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dari tiap peserta di awal dan di akhir. Karena peserta diharapkan memiliki kompetensi dalam melakukan penelitian metodologi feminis dari tahap perencanaan, pelaksanaan hingga tahapan pelaporan. Evaluasi harus dilakukan beberapa tahap agar setiap masukan dalam evaluasi dapat dijadikan acuan perbaikan untuk kegiatan berikutnya.

 

Perancangan Kurikulum

Dalam merancang kurikulum dan pelaksanaan pelatihan, urutan pemikiran yang digunakan adalah dengan memberikan pengantar di hari pertama mengenai feminism standpoint sebagai ruang eksplorasi dan juga melihat penggunaan perspektif feminis di dalam isu politik. Kemudian ditutup dengan paparan mengenai manajemen pelatihan untuk membekali peserta dalam mempersiapkan proposal serta hal-hal teknis lainnya. Peserta juga diberikan lembar pre-test ukuran pengetahuan, pemahaman dan keterampilan awal.

 

Pada hari berikutnya, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk melakukan kegiatan simulasi Kegiatan simulasi bertujuan sebagai latihan untuk merancang sebuah proposal penelitian dan mempresentasikannya untuk saling memberikan masukan terhadap rancangan proposal dari masing-masing kelompok. Terdapat empat hal dasar dalam pembuatan proposal penelitian yaitu: 1) Rumusan Masalah 2) Hipotesis 3) Pertanyaan Penelitian 4) Metode Pengumpulan Data.

 

Kemudian pada hari terakhir, fasilitator menyampaikan materi penelitian berperspektif feminis dan juga bagaimana cara melakukan analisa gender dalam penelitian. Di hari terakhir pula lembar evaluasi dan lembar post-test diolah menjadi bahan evaluasi kegiatan pelatihan.

 

Pembelajaran dari Kegiatan Pelatihan

Selain segi penyelenggaraan, penting juga mengukur segi substansial perubahan atau dampak dari kegiatan pelatihan. Meski perubahan atau impact kegiatan pelatihan WRI ini tidak dapat diukur secara langsung, namun dirasakan dan dapat disimpulkan bahwa peserta telah memiliki kesadaran kritis terhadap perspektif feminis, analisa gender dan juga manajemen penelitian berperspektif feminis melalui diskusi-diskusi aktif. Diskusi aktif yang berkembang dalam pelatihan menunjukkan adanya antusiasme peserta untuk mengetahui metode penelitian feminis dan bagaimana mempraktikkannya dalam penelitian lapangan. Peserta juga memperoleh pengetahuan tentang pengelolaan penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti yang melibatkan banyak orang secara kelembagaan.

 

Selain diskusi aktif, peserta juga diajak untuk ikut aktif dalam pembuatan rancangan penelitian. Dalam sesi ini, peserta diajak mengembangkan kemampuannya dalam mengidentifikasi masalah sosial, politik, budaya dan ekonomi yang dihadapi, dan dilakukan oleh perempuan. Dalam hal ini strategi yang dikembangkan dalam pelatihan adalah melakukan pengelompokan peserta ke dalam sejumlah tema penelitian yang sesuai dengan minat peserta.

  • Peserta diharapkan mampu menuliskan latar belakang suatu fenomena sosial kaum perempuan yang penting untuk diteliti;

  • Bagaimana menulis literature review dengan memahami asumsi dasar dari argumen yang ada dalam literature, guna memahami kelebihan dan kelemahan dari literature tersebut;

  • Bagaimana merumuskan pertanyaan kunci yang harus dijawab dalam penelitian, dan sekaligus menurunkan pertanyaan tersebut menjadi lebih operasional ke dalam pedoman wawancara maupun questionnaire;

  • Bagaimana merumuskan strategi pengumpulan data yang bersperspektif feminis untuk menjawab pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan.

 

Pelatihan mendesain penelitian ini bertujuan agar peserta memiliki pengalaman merancang sebuah proposal penelitian yang menggunakan metode dan perspektif feminis.

 

Pada akhir pelatihan, peserta melakukan evaluasi keseluruhan program pelatihan dengan mengisi lembar evaluasi. Masukan dari evaluasi ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas kegiatan pelatihan yang akan datang. Kegiatan pelatihan secara keseluruhan telah memberikan tambahan pengetahuan bagi para peserta mengenai pemahaman gender dan manajemen penelitian yang menggunakan perspektif feminis.***

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini