Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Editorial

  • Dampak Konsesi Hutan terhadap Kehidupan Perempuan

    Data Global Forest Watch (GFW) mencatat hilangnya Tutupan Pohon di Lahan Gambut di Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Siak, Riau. Hal ini berpotensi terhadap terjadinya kebakaran hutan yang berangsur lama. Jumlah hutan yang terdegrasi proporsinya jauh lebih banyak dibandingkan hutan murni. Perempuan yang tergantung pada kondisi hutan akan mengalami dampak yang berkepanjangan di masa mendatang. Laju deforestasi yang semakin cepat per tahunnya di picu oleh banyaknya izin konsesi yang diberikan pada perusahaan-perusahaan perkebunan dan kehutanan, mengakibatkan akses masyarakat terhadap hutan dan sumber daya alam juga semakin terbatas.

Women Research Institute (WRI) telah menyelenggarakan serangkaian kegiatan training metodologi feminis mulai dari Training Metodologi Feminis Tingkat Dasar Angkatan Pertama pada tanggal 24-27 Mei 2011, dan Training Metodologi Feminis Tingkat Dasar Angkatan Kedua pada tanggal 13-16 Juni 2011.

 

Melalui kegiatan training metodologi feminis ini, WRI berupaya mendorong dan menguatkan kapasitas para peneliti sedemikian rupa sehingga kemampuan meneliti dengan pengetahuan dan keterampilan yang terus berkembang. Dengan demikian komunitas peneliti semakin menguat dan mampu mengembangkan pengetahuan di berbagai daerah.

 

Selama ini, WRI telah memiliki pengalaman yang memadai dalam metode penelitian yang berperspektif feminis dan terus mengembangkan serta menyebarluaskan metode penelitian tersebut untuk mewacanakannya sebagai alternatif kritis terhadap metode penelitian yang tidak berperspektif gender. Oleh karenanya WRI menyelenggarakan training metodologi feminis untuk mendukung pencapaian cita-cita masyarakat yang berkeadilan gender. Dalam hal ini, WRI meyakini bahwa para peneliti harus memiliki kemampuan baik yang bersifat filosofi maupun praktis dalam menggunakan metode penelitian feminis.

 

Setelah training tingkat dasar berakhir, peserta dari dua angkatan training tersebut diminta untuk mengirimkan proposal penelitian mereka. Setelah dilakukan pendampingan dalam penulisan proposal penelitian dan kemudian sampai pada konsultasi saat penelitian lapangan dilakukan WRI merasa perlu untuk menjaga agar perspektif gender para penelitian tetap terbangun dan terasah dengan baik.

 

Setelah penelitian lapangan dilakukan sebagai media pembelajaran penggunaan perspektif dan metode feminis dalam penelitiannya, WRI merasa perlu mengadakan Training Metodologi Feminis Tingkat Lanjut (advance) pada tanggal 12-15 Oktober 2011 di Jakarta. Training ini memberikan pengetahuan dan kapasitas lanjut bagi peneliti agar bisa menggunakan metodologi feminis sampai pada tahap melakukan analisa feminis dalam penulisan hasil penelitiannya.

 

Salah satu hal yang akan dibahas dalam training metodologi tingkat lanjut ini adalah analisa data dengan menggunakan perspektif feminis dalam penulisan hasil penelitian. Peserta dilatih untuk lebih mendalami menganalisa data-data hasil penelitian yang sudah dilakukan. Karena diharapkan peserta dapat memperdalam kemampuan mengorganisasikan data, meluaskan referensi dan menajamkam daya telaah atau analisanya.

 

Capaian Kegiatan

  1. Peserta mampu mengenali dan menyepakati nilai-nilai etik penelitian dengan perspektif feminis.

  2. Peserta mendapat pengetahuan mengenai problem metodologi dalam penelitian feminis.

  3. Peserta mampu mengaplikasikan data empiris yang diperoleh dari penelitian terhadap posisi politik feminis termasuk relasi kuasa berbasis gender.

  4. Peserta mampu menganalisa data-data dengan menggunakan perspektif feminis serta mampu mengkonseptualisasikan data peristiwa hasil penelitian dalam bentuk outline laporan penelitian.

  5. Peserta mampu menuliskan laporan penelitian dengan perspektif feminis.

 

Training ini melibatkan fasilitator yang terbiasa memfasilitasi pelatihan metodologi feminis, seperti: Dr. Aris Arif Mundayat, Dr. Risa Permanadeli, Dra. Myra Diarsi, MA, Edriana Noerdin, MA dan Dra. Sita Aripurnami, Msc. Pada training tingkat lanjut ini, WRI mendatangkan narasumber khusus yaitu Prof. DR. Saskia Wieringa (Universitas of Amsterdam, Holland). Saskia berperan mengkritisi pemakaian konsep-konsep dasar (gender dan feminist thought, standpoint, empiricism serta feminist ethic) dan dalam praktik metodologinya. Proses pelatihan memakai pendekatan “coaching clinic” agar proses dan hasil kerja setiap peneliti dapat memperoleh komentar dan input untuk perbaikan penyusunan laporan final penelitian mereka.

 

Melalui seri training ini diharapkan dapat menjawab permasalahan-permasalahan yang telah diidentifikasi WRI, yaitu:

  1. Peneliti yang menguasai metodologi feminis masih kurang.

  2. Belum ada forum yang mempertemukan para peneliti yang menggunakan metodologi feminis.

  3. Belum ada dokumentasi yang baik dan baru untuk pengalaman penggunaan metodologi feminis baik di tingkat nasional maupun internasional.

  4. Minim forum untuk memfasilitasi tukar pengalaman dan pengetahuan tentang metodologi feminis.

 

Lessons Learned

  1. Menambah atau mengintensifkan pemahaman gender yang utuh dan operasional kerja di berbagai bidang. Hal ini karena konsep gender yang telah dipahami umumnya cukup terbatas pada definisi dan “know what” saja.

  2. Penguasaan perspektif feminisme hanya dapat terjadi dengan praxis yang didampingi ahli agar tidak terseret atau terserap paradigma non-progresif yang umumnya lebih dominan dijadikan pegangan normatif dan dipraktikkan meluas dalam institusi dimana para peneliti bekerja.

  3. Pola kerja dan rancangan WRI untuk program pelatihan metodologi feminis yang telah tersusun perlu diluaskan menjadi program reguler yang ajeg. Dengan dukungan dana dan asistensi teknis yang memadai, program tersebut dapat dijadikan salah satu “resources” WRI mendatang.

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini