RANGKUMAN
Women Research Institute
Jakarta, 24 Maret 2010
Latar Belakang
Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals) dirumuskan untuk mewujudkan delapan tujuan umum, salah satu diantaranya terkait dengan kesehatan ibu. Sehubungan dengan upaya pencapaian target MGDs di Indonesia, dalam hal kesehatan ibu, agaknya negara kita masih menghadapi kendala yang cukup berat dalam upaya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) terlebih lagi data AKI di Indonesia masih menjadi perdebatan. Sebagai gambaran, pada tahun 2009 secara serentak Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Pasifik (UNESCAP), Program Pembangunan PBB (UNDP), UNFPA, dan WHO1 menyatakan bahwa telah terjadi kenaikan Angka Kematian Ibu melahirkan dari 307/100.000 menjadi 420/100.000. Sementara itu data nasional yang dikeluarkan oleh Bappenas 20092 menunjukkan bahwa AKI di Indonesia justru mengalami penurunan dari 307/100.000 pada tahun 2002-2003, dan menjadi 228/100.000 pada tahun 2009. Meskipun angka perhitungan nasional tersebut menunjukkan tren penurunan, Bappenas mengisyaratkan bahwa Indonesia akan sulit mencapai target MDG untuk menurunkan AKI sampai ke angka 102 pada tahun 2015. Bappenas memperkirakan bahwa pada tahun 2015, AKI di Indonesia masih akan berkisar di angka 163. Indonesia tertinggal jauh dari Malaysia dan Thailand yang angka AKI-nya masing-masing 30 dan 243.
AKI menjadi salah satu indikator guna mengukur sejauh mana keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan perempuan. Mengapa AKI di Indonesia sulit untuk diturunkan? Ada banyak faktor yang ditengarai berkontribusi dalam menghambat upaya penurunan AKI, diantaranya adalah faktor akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi, yang belum merata oleh perempuan. Hasil penelitian WRI yang dilakukan di tujuh wilayah di Indonesia menunjukkan bahwa faktor kemiskinan, budaya, keterbatasan serta tidak meratanya fasilitas pelayanan dan tenaga kesehatan menjadi kendala bagi perempuan saat membutuhkan pelayanan kesehatan reproduksinya, terutama saat hamil dan melahirkan. Sementara hal itu berkontribusi pada angka kematian ibu melahirkan.
Di sisi lain, banyak warga masyarakat yang tidak menyadari bahwa pelayanan kesehatan dasar, pendidikan dan akses terhadap kerja adalah hak-hak dasar yang seyogyanya disediakan oleh negara. Dalam hal ini, negara sebagai instrumen publik memiliki kewenangan dan kewajiban untuk memenuhi hak-hak dasar tersebut serta berwenang untuk memformulasikan anggaran bagi publik melalui program pemerintah maupun swasta. Dalam kenyataannya, anggaran dan program-program pemerintah belum mampu memenuhi hak-hak dasar tersebut. Sekalipun, Undang-Undang Kesehatan sudah mengatur besaran minimal pembiayaan Kesehatan, namun belum cukup mampu mendorong daerah untuk mengalokasikan anggaran kesehatan, terutama kesehatan ibu, yang memadai agar pasti dapat menyelamatkan nyawa perempuan di Indonesia. Temuan penelitian WRI memperlihatkan masih ada daerah yang mengalokasikan pembiayaan kesehatan perempuan kurang dari 1%. Begitu pula halnya dengan program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang bertujuan untuk memberikan kemudahan pada masyarakat miskin guna mengakses fasilitas pelayanan kesehatan secara gratis, dalam pelaksanaannya ternyata masih menyisakan berbagai persoalan mendasar yang terkait dengan sistem pendataan, kualitas pelayanan maupun yang terkait dengan ketersediaan fasilitas layanan kesehatan serta pembiayaan. Hal tersebut menjadi kendala tersendiri bagi upaya penyediaan layanan kesehatan yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat khususnya kelompok miskin.
Secara cukup terperinci, hasil penelitian WRI ini menggambarkan permasalahan-permasalahan mengenai akses dan pemanfaatan fasilitas kesehatan reproduksi bagi perempuan miskin di tujuh wilayah penelitian tersebut. Gambaran yang masih jauh dari situasi yang diharapkan ini diajukan untuk dapat menjadi bahan pemikiran kita bersama untuk mencari jalan keluar agar dapat menghadirkan kondisi fasilitas pelayanan kesehatan reproduksi yang lebih menjawab kebutuhan perempuan miskin. Mampukah Indonesia mencapai target pembangunannya, yang salah satu indikatornya adalah Angka Kematian Ibu ketika melahirkan sebesar 102/100,000 pada tahun 2015?
Dengan melihat hasil penelitian ini, menjadi penting bagi WRI sebagai lembaga penelitian yang peduli dengan upaya penegakan hak-hak perempuan, khususnya hak-hak dasar perempuan sebagai warga negara untuk menyelenggarakan Peluncuran dan Diskusi Buku hasil penelitian WRI dengan tema Akses dan Pemanfaatan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Reproduksi Bagi Perempuan Miskin di Tujuh Kabupaten/Kota di Indonesia yaitu Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Lebak, Kabupaten Indramayu, Kota Surakarta, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Sumba Barat.
Tujuan
- Menyebarluaskan hasil penelitian WRI di tujuh wilayah di Indonesia yang memberikan gambaran akses dan pemanfaatan terhadap fasilitas dan pelayanan kesehatan oleh perempuan miskin, serta berbagai faktor yang mempengaruhi akses dan pemanfaatan perempuan miskin terhadap fasilitas dan pelayanan kesehatan yang tersedia.
- Mendorong berbagai pihak untuk bersama-sama memikirkan upaya-upaya apa yang strategis untuk dilakukan guna mewujudkan target MGDs dalam hal penurunan angka kematian ibu (AKI) yang saat ini masih cukup tinggi.
Sambutan
- Ibu Sita Aripurnami
(Direktur Eksekutif WRI) - Bapak David Hulse
(Country Representative Ford Foundation Indonesia) - Bapak Zahidul Huque
(Direktur UNFPA) - Ibu Setiawati Arifin
(Deputi II Bidang Kualitas Hidup Perempuan, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak)
Pembahas
- Ibu Edriana Noerdin
(Direktur Penelitian WRI)
"Target MDGs Menurunkan Angka Kematian Ibu Tahun 2015 Sulit Dicapai" - Bapak Wilson T.P. Siahaan
(MDG Campaign and Advocacy Analyst, UNDP)
"Target MDGs dalam Bidang Kesehatan khususnya dalam Menurunkan Angka Kematian Ibu" - Ibu Setiawati Arifin
(Deputi II Bidang Kualitas Hidup Perempuan, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak)
"Berbagai Upaya Pemerintah dalam Pencapaian Penurunan Angka Kematian Ibu" - Bapak Roy Tjiong
(Ketua Panah Medik Kesehatan Reproduksi PKBI/Helen Keller International)
"Berbagai Upaya yang Seharusnya Dilakukan dalam Pencapaian Penurunan Angka Kematian Ibu"
Proses Diskusi
Aris Arif Mundayat (Moderator)
Pada kesempatan ini, WRI akan menghadirkan sejumlah pembahas. Yang pertama adalah Ibu Edriana Noerdin yang akan menjelaskan isi buku itu sendiri. Kemudian disusul oleh Bapak Wilson Siahaan. Kemudian, sedianya kita mengundang Ibu Erna Herawati, namun beliau tidak bisa hadir dan saya kira kita sudah memiliki pembicara yang berkualifikasi cukup tinggi. Untuk menyingkat waktu saya persilahkan Ibu Edriana Noerdin untuk mempresentasikan isi buku dari WRI.
- 1. Data juga dikonfirmasi oleh ADB dan Bank Dunia.
- 2. Direktoral Evaluasi Pembangunan Sektoral, Bappenas, Status Ringkas: Millennium Development Goals, Indonesia 2009.
- 3. www.unicef.org: Info by Country: Statistics: Women
