Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Sumber: Kompas, Senin, 30 Agustus 2004

 

Manado, Kompas - Kenyataan bahwa kehidupan para penggiat sastra, sastrawan, serta guru-guru bahasa dan sastra di Indonesia kurang mendapat dukungan dari pemerintah maupun masyarakat menjadi ironi jika melihat peran sastra sebagai sarana transformasi sosial budaya. Maka, Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (Hiski) mengajak pemerintah dan masyarakat bermitra memberdayakan pengajaran sastra dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi.

 

Pemberdayaan pengajaran sastra, serta dukungan terhadap penelitian-penelitian sastra dan penciptaan iklim yang menunjang kegairahan membaca, menulis, dan mengapresiasi sastra, merupakan tiga butir rekomendasi Musyawarah Nasional (Munas) VI Hiski, yang dirangkai dengan Konferensi Internasional Kesusastraan XV, di Manado. Kegiatan lima hari itu ditutup Jumat (27/8).

 

Munas menetapkan Riris K Toha-Sarumpaet sebagai Ketua Umum Hiski 2004-2007. Riris, guru besar kesusastraan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, juga memimpin periode sebelumnya.

 

Riris menjelaskan, pemberdayaan pengajaran sastra dapat terlaksana melalui peningkatan mutu pembelajaran sastra, penyediaan bahan ajar, dan kurikulum sastra yang mampu menggerakkan minat siswa terhadap sastra. Adapun dukungan terhadap penelitian-penelitian sastra merupakan salah satu upaya untuk memahami keindonesiaan yang terekam dalam karya sastra dari latar belakang dan masa yang berbeda.

 

"Dalam situasi budaya yang krisis sekarang ini, sastra berperan untuk membangun kembali keindonesiaan yang selama ini diguncang oleh kekerasan antarkelompok. Melalui karya sastra bisa ditemukan persamaan di antara berbagai kelompok dengan latar belakang budaya yang berbeda. Melalui sastra pula, ingatan kolektif dirajut untuk menyatukan kita sebagai suatu bangsa," papar Riris.

 

Sastra Bandingan


Konferensi tahunan kali ini yang bertema "Sastra Bandingan: Membuka Dialog Antardisiplin dan Antarbudaya" menyajikan sedikitnya 50 makalah. Pada sesi pleno ada Nirwan Dewanto dari Komunitas Utan Kayu, Jakarta, yang mencoba mencari hubungan telaah seni dengan penciptaan seni dalam khazanah mutakhir Indonesia. Kemudian, Lisabona Rahman dari Woman Research Institute, Jakarta, membahas representasi hubungan seksual dan seksualitas dalam karya penulis Ayu Utami dan Erica Jong.

 

Sesi pleno lain menampilkan Sumarwati Kramadibrata Poli dari Universitas Hasanuddin, Makassar, bersama Sylvia Tiwon dari University of California-Berkeley, Amerika Serikat. Poli mengkaji karya Le Pere Goriot (1835) karya Honore de Balzac-dikenal sebagai Bapak Realisme Perancis-dan Bumi Manusia (1980) karya Pramoedya Ananta Toer.

 

Poli mengetengahkan tiga hal: latar waktu dan ruang yang menempatkan tokoh pada suatu periode dan tempat yang merefleksikan kondisi sosio-ekonomi dan politik tertentu, tema sebagai ungkapan semangat zaman yang diacu, serta teknik pengungkapan faktanya.

 

Sementara Tiwon memaparkan siasat tekstual/naratif penulis kolonial dan pascakolonial dalam tekanan proses modernisasi yang tak merata serta usaha mencari suara alternatif/lokal. Ia menelusuri beberapa ironi yang terlibat dalam estetika modernisme dalam beberapa karya yang berkaitan dengan Asia Tenggara, dari karangan George Orwell dengan visinya mengenai imperialisme fase kedua (atau globalisasi awal) hingga naratif pasca-Perang Vietnam oleh Andrew Pham. (LAM)