Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Sumber: Jurnalperempuan.com, Rabu, 14 September 2005
Jurnalis: Eko Bambang S

 

Jurnalperempuan.com-Jakarta, Supaya langkah advokasi anggaran berkeadilan gender dapat berjalan dengan baik, maka salah satu cara yang paling efektif adalah dengan menciptakan sebanyak mungkin best practice dari model penganggaran yang baik sehingga memberi peluang bagi terakomodasinya anggaran berkeadilan gender. Demikian pendapat yang disampaikan oleh Alexander Irwan dari Yayasan Tifa, dalam seminar Advokasi Anggaran Berkeadilan Gender, Upaya Menuju Kesejahteraan Perempuan, yang diselenggarakan oleh Women Research Institute (WRI) di Jakarta, Selasa (13/09/05).

Sumber: Kompas, Fokus-Swara, Sabtu 24 September 2005

 

Ketika pemerintah memutuskan menyalurkan langsung dana kompensasi BBM kepada keluarga, secara sadar perempuan istri dipilih sebagai penerima dana tersebut.

 

Menteri Sekretaris Negara, Yuzril Ihza Mahendra mengatakan, pilihan tersebut untuk menghindari ekses yang tidak diinginkan dalam pemanfaatan dana sebesar Rp. 100.000 per bulan per keluarga itu. Pilihan tersebut secara tidak langsung mengakui bahwa perempuan memiliki pengalaman dan kepentingan berbeda dibandingkan laki-laki.

Sumber: Jurnalperempuan.com, Senin, 26 September 2005
Jurnalis Kontributor: Latifah

 

Nasikun mengemukakan pendapatnya itu dalam menanggapi keyakinan Mary Daly yang tercantum dalam buku Metode-Metode Feminis dalam Penelitian Sosial. Acara bedah buku hasil kerja sama Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) dan Women Research Institute (WRI) ini diselenggarakan di Yogyakarta pada Kamis (22/9). Dalam buku karya Shulamit Reinharz itu, Mary Daly mengklaim bahwa laki-laki bisa mendukung feminisme, tetapi tidak dapat menjadi feminis karena tidak memiliki pengalaman perempuan.

 

Mengenai “kehendak intelektual emosional” tentang pengalaman perempuan” yang diperlakukan tidak adil di dalam sistem patriarki, Nasikun berpendapat bahwa hal itu hanya merupakan salah satu sisi dari ”kehendak-intelektual-emosional” tentang pengalaman yang lebih luas umat manusia yang dihasilkan oleh beragam tertib sosial yang tidak adil seperti kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme. Nasikun juga menambahkan, “awal perhatian saya pada isu-isu ketidakadilan gender juga diinisiasi oleh perhatian saya tentang isu-isu dan terori-teori pembangunan.”

Sumber: Kompas-Swara, Sabtu, 8 Oktober 2005

 

Seorang teman yang banyak melakukan penelitian sosial bersorak ketika mendengar berita bahwa bantuan subsidi bahan bakar minyak dari pemerintah diserahkan kepada perempuan. Artinya perempuan diakui sebagai pengelola keuangan rumah tangga yang baik. Mereka tahu apa yang harus dilakukan, katanya.

 

Mungkin peneliti itu juga akan dengan mudah menarik kesimpulan, kekerasan dalam rumah tangga tidak jadi masalah karena perempuan-perempuan respondennya menjawab, Tak ada soal. Itu hak suami.