Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Sumber: Kompas-Jawa Tengah, Kamis, 20 April 2006

 

"Waktu itu ada tawaran pelatihan gender (baca: jender) untuk sekolah menengah, yang datang kebanyakan guru kesenian. Setelah dijelaskan bahwa jender itu bukan alat musik gender tetapi jender, mereka teriak, eladalah, ada istilah baru toh," kata seorang peserta Focus Group Discussion Dampak Advokasi Anggaran Berperspektif Gender, yang mengundang tawa peserta lainnya.

 

Diskusi yang diadakan Women Research Institute atau WRI dan Pattiro Surakarta, Selasa (18/4), itu diawali pandangan peserta tentang arti jender. Beragam jawaban peserta yang berasal dari kalangan eksekutif, legislatif, dan lembaga swadaya masyarakat Kota Solo.

 

Makna jender menurut seorang peserta, Tumiriyanto, pegiat di Jaringan Perempuan Usaha Kecil se-eks Karesidenan Surakarta, adalah konstruksi sosial yang membedakan laki-laki dan perempuan sehingga posisi dan kondisi perempuan terhadap laki-laki di masing-masing daerah bisa berbeda. Jika posisi dan kondisi itu timpang, timbul ketaksetaraan jender.

 

Studi dampak advokasi anggaran berkeadilan jender digelar di enam kota, yakni Solo, Yogyakarta, Surabaya, Mataram, Makassar, dan Kupang. Ini untuk melihat sejauh mana program advokasi anggaran berkeadilan jender yang dilakukan sebelumnya, meningkatkan partisipasi perempuan pada perencanaan dan penganggaran.

 

Hasil kajian WRI dalam studi itu, LSM di Solo umumnya mampu memberdayakan masyarakat di tingkat akar rumput untuk lebih berpartisipasi dalam perumusan program. Di tingkat eksekutif, anggaran yang berkesadaran jender belum secara spesifik dirumuskan dan seringkali berseberangan dengan pandangan LSM.

 

Di kalangan legislatif, sikap akomodatif ditunjukkan terhadap LSM. Koordinasi LSM dan legislatif dinilai berhasil dalam perumusan anggaran yang semakin memperlihatkan keadilan jender. (EKI)