Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Sumber: Jurnalnet.com, 22 Februari 2006
Rahmat

 

Jurnalnet.com (Jakarta): Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Menneg PP) Meutia Farida Hatta Swasono akan memimpin delegasi Indonesia ke Sidang Kedudukan Wanita di New York ke 50 pada 27 Februari-10 Maret 2006. Dalam pertemuan perempuan dunia tersebut ditekankan perlu adanya kesetaraan dan keadilan gender yang memainkan peranan penting. Tentunya perempuan dapat mewujudkan kesepakatan-kesepakatan internasional termasuk Milenium Development Goals (MDGs).

 

Delegasi ini beranggotakan 27 orang dari berbagai instansi antara lain Kantor Kementerian Menneg PP, Kantor Menko Kesra, Depkum dan HAM, Deplu dan sejumlah LSM perempuan seperti Solidaritas Perempuan, Indonesia Center for Women in Politics, Women Research Institute, Kapal Perempuan, Kowani, Mitra Perempuan, dan lainnnya.

 

Meutia mengatakan sidang itu bertujuan menindaklanjuti kesepakatan yang diambil dalam Konferensi Dunia IV tentang Perempuan di Beijing pada 1995 dan kesepakatan pada sesi khusus PBB ke 23 tentang Perempuan pada 2000.

 

"Dari 12 Landasan Aksi Beijing, Indonesia akan fokus pada tiga bidang isu yaitu pendidikan, kesehatana dan politik. Tapi isu lainnya juga menjadi titik perhatian kami. Makanya kami juga mengikutsertakan LSM dari Indonesia untuk sumbang saran dalam pertemuan tersebut," kata Meutia.

 

Khususnya di bidang pendidikan, lanjutnya, sejak tahun 1995 kesenjangan gender lebih menipis. "Anak-anak perempuan sudah ada peningkatan untuk masuk sekolah, meskipun belum seimbang dengan anak laki-laki yang disekolahkan.

 

Sedangkan buta huruf bagi perempuan, persentasenya masih dua kali lebih besar dengan laki-laki. Sehingga tahun lalu ada kesepakatan antara KPP dengan Depdiknas dan Depdagri dalam rangka meningkatkan pemberdayaan perempuan di bidang pendidikannya. "Kesepakatan itu bertujuan untuk menurunkan angka buta aksara pada perempuan," katanya.

 

Dalam bidang kesehatan, katanya, pihaknya memberikan perhatian kepada angka penderita HIV/AIDS yang kebanyakan korbanya adalah kaum perempuan serta anak-anak. Padahal biayanya yang sudah dikeluarkan untuk penanggulangan HIV/AIDS ini cukup besar. Namun hingga kini jumlah korban atau penderita juga belum dapat diturunkan angkanya.

 

"Angka HIV/AIDS menjadi gunung es dan menyebar dimana-mana. Oleh karena itu, kampanye saja belum cukup. Beberapa hari lalu saya memperoleh informasi untuk melakukan strategi baru untuk mengatasi HIV/AIDS, karena yang konvensional belum ampuh," katanya.

 

Meutia menambahkan Indonesia merupakan wakil ketua komisi yang mewakili Asia Pasifik. Forum ini memberikan kesempatan bagi pejabat tinggi untuk berbagi pengalaman dalam melaksanakan Deklarasi dan Aksi Beijing dan hasil dari sesi khusus PBB. ***