Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Sumber: ICRP, 16 Januari 2007

 

Siang itu, Jumat, 12 Januari 2007, sejumlah aktivis perempuan berdiskusi dengan serius di ruang pertemuan Sekretariat Women Research Institute (WRI). Kehadiran mereka merupakan bagian dari wujud solidaritas sesama aktivis perempuan, khususnya bagi WRI yang dalam rentang waktu yang cukup singkat telah mengalami 2 kejadian teror berturut-turut.

 

Kejadian pertama pada 3 September 2006, kantor WRI dimasuki orang tak dikenal yang mengacak-acak kantor dan mengambil delapan unit CPU beserta satu handphone milik kantor. Kejadian berikutnya pada 5 Januari 2007, 2 aktivis pucuk pimpinan WRI mendapat surat kaleng via fax dari pelaku yang menyebut dirinya sebagai Lembaga Dakwah Islamiyah.

 

“Surat itu berisi seruan untuk bertobat, peringatan kepada WRI yang dianggap belum kapok atas kejadian pencurian serta gertakan atau ancaman akan kehilangan keluarga dan orang yang dikasihi,” kata Myra Diarsi, Dewan Pendiri WRI.

 

Menanggapi 2 kejadian tersebut, akhirnya WRI tidak tinggal diam. Dialog WRI dengan sejumlah lembaga HAM meyakinkan mereka bahwa ada kecenderungan pola perbuatan yang sistematik untuk mengintervensi data atau eksistensi sebuah lembaga.

 

Pola tersebut juga mengindikasikan bahwa pelaku selalu menyasar aktivis pembela hak asasi manusia (human right defender) dan korban (survivor). “Ibu-ibu buruh pabrik di Tangerang yang memperjuangkan hak-haknya juga kerap kali mendapatkan ancaman baik fisik maupun verbal”, tandas Ita F. Nadia.

 

WRI juga mendapatkan informasi berharga bahwa kejadian serupa kerap dialami pula oleh LSM-LSM lain, seperti Migrant Care, CGI, Tri Union Resoures Center dll. Oleh karena itu, WRI berupaya untuk terus mengadvokasi permasalahan tersebut sambil melakukan konsolidasi dengan sejumlah LSM, terutama LSM-LSM perempuan.

 

Dalam pertemuan hari ini juga terungkap fakta bahwa sejumlah LSM Perempuan dan termasuk aktivisnya kerap mendapat ancaman, baik disampaikan oleh pelaku yang beridentitas jelas maupun oleh pelaku yang tidak berani menampakkan identitas. Fatayat NU misalnya, mendapatkan ancaman dari kelompok radikal setelah melaunching Buku Fikih Aborsi. Fatayat NU dinilai mengadvokasi hak-hak perempuan yang tidak sesuai dengan Syariat. Musdah Mulia (LKAJ) dan Tini Hadad (YKP) juga sejumlah nama yang kerap mendapatkan ancaman karena aktivitas human right defender yang konsisten dijalankannya.

 

Ke depan, WRI dan sejumlah LSM berkonsolidasi akan mengangkat persoalan ini ke masyarakat luas melalui blow-up media dengan terlebih dahulu mempersiapkan database statistik ancaman bagi human right defender. (em)