Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Sumber: wahidinstitute.org, Selasa, 08 Januari 2007

 

Intimidasi terhadap lembaga yang memperjuangkan hak-hak perempuan kembali terjadi. Kali ini menimpa lembaga riset Women Research Institute (WRI) yang berkantor di bilangan Kalibata, Jakarta.

 

Melalui faksimil tertanggal 5 Januari 2007, lembaga yang fokus mengkaji isu kesetaraan jender, termasuk perda-perda Syariat Islam, ini diminta ‘bertobat’ karena aktivitasnya dinilai telah menyimpang dari ajaran Islam.

 

“Maka sadarlah saudaraku…insyaflah…rubahlah sikap kalian. Kembalilah ke jalan Allah. Hiduplah dengan cara Islam, hargai dan sayangilah kaummu, terutama saudara seimanmu (kaum muslim dan muslimah), bergaullah dengan damai bersama mereka. Hiduplah berdampingan dengan orang yang seiman. Kalian muslimah, maka pilihlah pasangan hidupmu orang yang seiman dengan kalian yaitu seorang muslim. Karena perkawinan seorang muslim dengan orang Nashrani (= kafir) merupakan perbuatan perzinahan seumur hidup. Allah sangat membenci perkawinan tersebut dan Allah sangat murka dengan perkawinan tersebut. Oleh karenanya, Allah mengganjar orang (muslim) yang melakukan perzinahan dengan hukuman 40 tahun dosa tak terampuni,” tulis pengirim ancaman itu, yang mengatasnamakan diri ‘Sobatmu di Lembaga Da’wah Islamiah’.

 

Tak sampai di situ, pengirim ancaman juga mengingatkan kembali akan kasus pencurian yang menimpa lembaga itu pada empat bulan sebelumnya. “Masih segar dalam ingatan kita terjadinya musibah yang menimpa kantor kalian, pencurian di kantor kalian. Itu hanyalah cambuk kecil dari Allah swt atas sikap kalian selama ini. Itu belum seberapa. Tidak mustahil, Allah akan semakin murka melihat hamba-Nya sudah tidak lagi mengindahkan peringatan-Nya. Karena Allah Maha Besar, Maka Kuasa, dan Maha Memiliki alam semesta ini, dengan mudahnya Allah dapat memutarbalik keadaan kalian semua. Hanya dengan sekejap, jika Allah menghendaki kantor kalian akan musnah menjadi arang dan rata dengan tanah serta merta kalian kehilangan jabatan dan kekuasaan sekaligus. Atau kalian sendiri akan mendapat cobaan-cobaan, misalnya berupa serangan penyakit, hilangnya/matinya orang yang paling kalian cintai.”

 

Empat bulan sebelum munculnya fax ancaman itu, tepatnya Minggu (3/9/2006) kantor WRI dibobol maling. “Barang-barang inventaris WRI yang terdiri 8 unit CPU, 1 monitor LCD dan 1 unit HP Nokia dicuri maling. Berkas-berkas penting lainnya juga diacak-acak,” tulis pernyataan resmi WRI tertanggal 8 Januari 2007.

 

Dari 9 unit CPU yang dimiliki WRI, si maling hanya menyisakan 1 unit CPU yang berfungsi sebagai komputer grafis. "Agak mengherankan, ternyata banyak barang yang lebih mahal tidak diambil pencuri 3 unit printer laser dan 1 unit printer warna dalam keadaan utuh. 10 monitor, mesin PABX, televisi, radio/tape compo dan semua barang yang berada di lemari keuangan (infocus, laptop dan camera digital) termasuk uang cash dan perhiasan lain tidak disentuh/ diambil," tulis WRI.

 

Sehari kemudian seluruh aktivis WRI, plus satu anggota badan pendiri memutuskan untuk segera melaporkan pencurian ke Polsek Pancoran. Laporan itu diterima kepolisian dengan nomor No. Pol.: LP/ 430/ IX/ 2006/ Sek. Pancoran. Pihak kepolisian, saat itu juga, mengirim empat reserse untuk memeriksa kantor WRI.

 

Menanggapi ancaman ini, sedikitnya 30 perwakilan lembaga yang peduli pada penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) dan kebebasan, melakukan rapat dan konsolidasi di Kantor Kontras Jakarta, Senin (8/01/2007). Mereka antara lain, Direktur WRI Sita Aripurnami, Wakil Komnas HAM Zoemrotin K Susilo, mantan Sekjen Komnas HAM Asmara Nababan, perwakilan PBHI Johnson Panjaitan dan Direktur Eksekutif the WAHID Institute Ahmad Suaedy. Tampak juga perwakilan dari Imparsial, LBH Jakarta dan YLBHI.

 

Hasilnya, mereka sepakat untuk mendiskusikan dan mencari bukti lanjutan sebelum melaporkannya ke pihak kepolisian. “Misalnya adakah kaitan pencurian yang terjadi empat bulan sebelumnya dengan surat ancaman itu. Mungkin saja orangnya sama dan mungkin juga berbeda,” kata Ahmad Suaedy.

 

“Yang jelas kita sepakat melaporkan kejadian ini selekasnya. Ini membahayakan masa depan demokrasi, karena mengancam kebebasan,” sambungnya. ***