Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Sumber: Sriwijaya Post - Rabu, 14 Mei 2008


Penampilannya yang anggun dibalut busana batik yang sedang tren saat ini menambah kefeminiman Sita Aripurnami. Tidak hanya sebatas penampilan. Pemikiran putri pertama sastrawan besar Umar Khayam ini memang matang menyuarakan hak-hak perempuan, seperti ketika dia berbicara menyangkut Anggaran Berkeadilan Gender (ABG), Selasa (13/5).


Sita yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Women Research Institute (WRI) terjun langsung ke Palembang menyosialisasikan ABG. “Kita harus selalu mengingatkan kepada pengambil kebijakan, agar dalam penganggaran selalu memperhatikan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dan pemenuhan hak-hak perempuan,” katanya saat berbicara dalam workshop Peluang dan Tantangan ABG dalam Penganggaran APBD Sumatera Selatan, di Hotel Duta.


Sedikitnya 75 peserta dari berbagai kalangan menghadiri kegiatan ini. Menurut S2 Gender Studies ini, pengambil kebijakan bukannya tidak tahu akan pentingnya ABG. “Persoalannya, kita suka lupa bahwa dalam setiap persoalan itu ada laki-laki dan perempuan. Makanya ini harus selalu kita ingatkan,” tukasnya.


Menurut Sita, apa yang diperjuangkanya saat ini, tidak terlepas dari pengalaman dirinya dan faktor lingkungan dalam keluarga. “Dari kecil perspektif gender sudah ditanamkan. Kita tidak pernah membedakan antara laki-laki dan perempuan,” ujarnya kepada Sripo. Kakek dan ayahnya yang keturunan Jawa juga sudah menyampingkan kultur Jawa yang dianggap mengecilkan perempuan. Misalnya ketika menikah dalam kultur Jawa, ada prosesi memecah telur. Si Suami menginjak telur, lalu Istri membasuh kaki yang kotor sebagai simbol pengabdian. “Dalam keluarga kami, kakek kami melarang itu. Keluarga kakek tidak mengijinkan anak perempuannya membasuh kaki yang menginjak telur. Kakinya yang kotor ya karena kesalahan sendiri,’ Sita sambil tersenyum. (lisman)