Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Sumber: Radar Jogja, 01 Februari 2012


WONOSARI – Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI) di Gunungkidul meningkat. Dari data Woman Research Institute (WRI) pada 2010 terjadi delapan kasus dan 2011 meningkat menjadi menjadi 12 kasus.


Staf lokal WRI Gunungkidul Tri Asmiyanto mengungkapkan, AKI selama empat tahun terakhir ada tren mengalami kenaikan. Kasus terbanyak terjadi di Kecamatan Saptosari dengan empat kasus. Selanjutnya disusul Kecamatan Semin, Paliyan dan Kecamatan Wonosari. “Kasus terbaru di Kecamatan Wonosari,” kata Tri kemarin (31/1).


Peristiwa di Wonosari itu terjadi saat ibu yang akan melahirkan datang ke poliklinik yang diketahui tenaga paramedisnya terbatas. “Kejadian itu sangat memprihatinkan dan menjadi perhatian pemkab,” imbuhnya. Dikatakan, penyebab AKI masih berfokus pada keterlambatan pengambilan keputusan di tingkat warga sendiri saat kegawatdaruratan sebelum merujuk ke RSUD.


Kasubdit Sosial Budaya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Gunungkidul Priyanta Madya Satmaka mengakui kenaikan jumlah AKI. Namun demikian, angka itu masih jauh di bawah standar provinsi dan nasional. “Stagnan tidak ada penurunan maupun kenaikan yang tajam,” ujarnya.


Menyikapi itu, Pemkab telah mengupayakan penurunan AKI dengan memasukkan ke dalam indikator capaian 2010. Diantaranya dengan menggandeng beberapa LSM, seperti WRI. “Kita membuat regulasi tentang pengembangan desa siaga,” terangnya.


Ada dua subtansi pengembangan desa siaga. Yakni memerhatikan desa atas kematian ibu yang meningkat dan pelaporan kematian. Pemkab juga mendorong agar desa siaga lebih peduli dengan kematian ibu. Sedangkan substansi kedua, menyangkut distribusi bidan.


Data dinas kesehatan, di Gunungkidul ada 180 bidan mengampu di 144 desa. Jika per desa ada satu bidan maka akan memudahkan masyarakat. Sayangnya masih ada desa yang tidak terjamah bidan. Contohnya terjadi di Desa Kanigoro dan Krambalsawit dan sejumlah desa lainnya.


Dengan adanya Peraturan Bupati Nomor 56 tahun 2011 tentang Pengembangan Desa Siaga, kata Priyanta bisa menjawab terpenuhi kebutuhan bidan, satu desa, bisa satu bidan. Jumlah bidan lebih banyak daripada jumlah desa, meski masih ada desa yang tidak memiliki bidan menetap. Akibatnya, jika ada orang melahirkan tengah malam tak bisa tertangani. Inilah yang mendorong sinergi antara Pemkab dengan WRI. Kerjasama dengan WRI sudah dibangun pada awal Desember 2011. Pemkab juga bekerjasama dengan IDEA dan YSKK untuk mendorong perempuan peka terhadap permasalahan ini.


Menurut dia, saat ini sudah dilakukan pendampingan di Desa Karangawen, Kecamatan Girisubo dan Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari. (gun)