Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Sumber: Okezone, Kamis, 13 Desember 2012 
Niken Anggun Nurani 


KEHAMILAN seharusnya merupakan anugerah tersendiri bagi pasangan yang bersangkutan. Namun kenyatannya, tidak jarang kehamilan pada sebagian wanita justru menjadi ancaman tersendiri bagi kesehatan mereka. Apa pasal?


Banyak wanita kesulitan meraih kehamilan, dan tidak jarang banyak juga yang mudah meraih kehamilan tersebut. Pada beberapa kasus, banyak wanita dengan mudahnya meraih kehamilan, bahkan ketika mereka tak menginginkannya. Di Indonesia sendiri, kasus seperti itu banyak terjadi, khususnya menyerang wanita di usia muda yang secara psikologis belum siap menerima kehadiran buah hati.

 

Salah satu daerah yang memiliki kasus kehamilan usia muda yang cukup tinggi berada di Lombok Tengah dan Gunungkidul. Berdasarkan hasil dari Women Research Institute (WRI), persoalan mendasar yang dihadapi remaja Gunungkidul ialah kurangnya informasi, pengetahuan dan pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi seksual mereka. Faktor tersebut menyebabkan remaja melakukan hubungan seksual di usia sangat muda, yang berisiko terhadap adanya kehamilan tidak diinginkan. Pada akhirnya, mereka terpaksa melakukan pernikahan di usia dini.


Hal ini terlihat dari data permintaan dispensasi menikah ke Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2010 terdapat 80 pernikahan dan kemudian meningkat menjadi 145 pernikahan pada tahun 2011 (Data Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Gunungkidul, 2012). Usia pasangan yang mengajukan dispensasi menikah tersebut berkisar antara 16 hingga 21 tahun.


Sementara di Lombok Tengah, persoalan Angka Kematian Ibu (AKI) masih cukup tinggi yang berada pada angka 228 kematian pada setiap 100,000 kelahiran (SDKI 2007). Propinsi Nusa Tenggara Barat adalah salah satu penyumbang tertinggi AKI di Indonesia. Pada tahun 2011 terdapat 18,915 kelahiran di Kabupaten Lombok Tengah dan diperkirakan 10 persen kelahiran tersebut oleh remaja perempuan dari usia antara 14 hingga 19 tahun (Data Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah, 2012).


Dalam peluncuran film dokumenter dan seminar bertajuk “Mengakhiri Pernikahan Dini dan Mengurangi Angka Kematian Ibu” pada tanggal 12 Desember 2012 lalu Women Research Institute mencoba membedah fenomena ini dalam upaya mencari solusi agar remaja mendapatkan pemenuhan akan informasi kesehatan reproduksi serta hak-hak yang menyertainya, termasuk pelayanan kesehatan reproduksi bagi mereka. Karena terlihat jelas bagaimana kondisi kesehatan reproduksi remaja berkaitan erat dengan kemiskinan baik di Gunungkidul maupun Lombok Tengah. (ind)