Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Moral Ekonomi Perempuan Pabrik Dinamika Kehidupan di Tempat Kerja (5)


Konsep “modal sosial” secara sederhana dapat didefinisikan sebagai relasi antar-individu yang membentuk sebuah jejaring yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan bersama. Jejaring ini menjadi basis material yang dapat diakumulasi oleh individu yang terlibat di dalamnya untuk mengembangkan potensi masing-masing. Dalam konteks perempuan buruh pabrik jejaring tersebut bersinggungan langsung dengan lingkungan pabrik maupun lingkungan sosial tempat mereka tinggal. Sebagaimana dipaparkan Khodijah dalam tulisan ini, relasi di antara kedua lingkungan tersebut amat sangat penting dalam menunjang seorang buruh yang mencoba bertahan hidup dalam relasi industrial. Di dalam kedua wilayah itu mereka juga membangun basis relasi sosial yang lebih bernuansa primordial. Mereka biasanya memanfaatkan modal sosial tersebut untuk mencari lapangan kerja baru, tempat indekos, memasukkan saudara atau kerabat ke perusahaan tertentu, dan lain-lain. Hampir semua relasi sosial itu berkarakter pragmatis dan terkait erat dengan realitas hidup sehari-hari yang harus diatasi buruh perempuan dalam jangka pendek; relasi sosial apolitis.

Moral Ekonomi Perempuan Pabrik Dinamika Kehidupan di Tempat Kerja (4)


Relasi industrial asimetris dihadapi oleh buruh perempuan dengan pelbagai cara, antara lain, menyiasati atau melakukan semacam negosiasi dengan aparatus industrial atau mengembangkan strategi sosial tertentu. Contohnya Enong yang mengalami gugur kandungan pada 2006. Sebagaimana dipaparkan Diana Teresa Pakasi dalam buku ini, perusahaan tempat Enong bekerja menganggap itu bukan bagian dari cuti haid atau melahirkan sehingga tidak berhak mendapat upah penuh. Namun, Enong mendesak perusahaan agar membayar upahnya. Enong melibatkan PUK di pabrik tempatnya bekerja. Alih-alih memperjuangkan hak anggotanya, PUK malah menindas. Jejaring pengetahuan dan kuasa yang dimiliki PUK membuat organisasi ini merasa tidak perlu setara dengan Enong. Penyelesaian kasus itu pun membutuhkan prasyarat, “akan diurus jika Enong mengajak 10 orang buruh lain untuk menjadi anggota PUK”. Memenuhi persyaratan itu tidaklah mudah, namun Enong melihatnya dari sisi positif, yakni menjadikan rekan sesama buruh sebagai modal sosial yang kelak dapat melindunginya, dan juga bagian dari pembelajaran agar buruh tidak tergesa-gesa menjadi anggota PUK ketika sedang menghadapi suatu masalah. Di sisi lain, itu merupakan proses pendisiplinan terhadap buruh yang dalam derajat tertentu dianggap sebagai kebenaran mutlak yang harus dipatuhi PUK, buruh, dan aparatus perusahaan.

Moral Ekonomi Perempuan Pabrik Dinamika Kehidupan di Tempat Kerja (3)


Matriks di bawah merupakan sekumpulan masalah buruh perempuan dalam relasi industrial hasil temuan tim peneliti WRI.

Moral Ekonomi Perempuan Pabrik Dinamika Kehidupan di Tempat Kerja (2)


Hubungan buruh-majikan di Indonesia tahun 1970-an masih sarat diwarnai hubungan sosial patron-client bercorak perdesaan. Buruh pabrik batu bata tradisional di sekitar daerah Bekasi, misalnya, memerankan diri sebagai client, sedangkan pemilik pabrik lebih banyak mengambil peran sebagai patron yang memberi segala macam perlindungan. Pola tersebut berangsur-angsur lenyap seiring dengan berubahnya wajah sebagian besar desa di Bekasi menjadi kawasan industri. Jumlah pengusaha batu bata tradisional pun turun drastis. Industrialisasi memang mendorong pelbagai perubahan di tingkat lokal, seperti tercerabutnya hak kepemilikan tanah atau warga desa “alih profesi” menjadi buruh pabrik atau bekerja di sektor non-pertanian lainnya. Buruh migran yang “membanjiri” kawasan industri di sekitar Bekasi pun membawa berkah bagi penduduk lokal yang membuka pelbagai usaha, seperti asrama, tempat indekos, warung makan-minum, dan sektor jasa lainnya. Industrialisasi telah mengubah wajah perdesaan Bekasi, baik infrastruktur maupun budaya masyarakatnya yang semakin “ter-kota-kan”1. Contohnya, berjanji dengan rekan sesama buruh untuk makan atau belanja pakaian bersama di sebuah mall atau membeli telepon seluler. Bahkan, pilihan busana mereka pun mendekati cita-rasa kelas menengah. Perilaku konsumsi mereka kian sulit dibedakan dengan perilaku konsumsi kelas-kelas sosial lainnya. Artinya, kehadiran buruh perempuan di kawasan industri harus diletakkan dalam konteks perubahan budaya, dan bagaimana strategi mereka dalam menyikapi semua itu.

Moral Ekonomi Perempuan Pabrik Dinamika Kehidupan di Tempat Kerja (1)

 

Pendahuluan

 

Tulisan ini merupakan hasil penelitian mengenai buruh perempuan yang ditulis oleh beberapa peneliti dari Women Research Institute (WRI) dengan menggunakan metode feminis. Studi kasus tentang buruh perempuan yang bermigrasi dari perdesaan ke perkotaan dan pelbagai tantangan dalam dunia industrial dan kehidupan kota tidak hanya dimaksud untuk memperoleh pengetahuan lebih mendalam tentang pergulatan hidup buruh perempuan, melainkan juga sebagai upaya untuk mengangkat dan mengungkap secara lebih jernih suara hati mereka. Tulisan ini tidak hanya membahas upaya bertahan hidup buruh perempuan dalam konteks relasi industrial, tetapi lebih luas dari itu, yakni pertautan mereka dengan perilaku konsumsi, aktivitas organisasional, dan persoalan-persoalan pragmatis di wilayah perkotaan.

 

Beberapa pertanyaan pokok diajukan dalam kajian ini, antara lain, bagaimana buruh perempuan melepaskan diri dari dunia agraris, bagaimana buruh perempuan menyesuaikan diri dengan lingkungan industrial, apa strategi untuk bertahan hidup di kota besar, dan bagaimana buruh perempuan memposisikan diri ketika berangkat meninggalkan desa menuju kota. Konteks bertahan hidup di perkotaan tidak hanya berlandaskan pada basis ekonomi semata, tetapi juga bersandar pada strategi-strategi sosial budaya yang mereka kembangkan. Karena itu, aspek ekonomi, relasi sosial dalam arti modal sosial, perilaku konsumsi dan gaya hidup buruh perempuan di perkotaan seharusnya dipahami secara lebih komprehensif. Semuanya saling mengait dan sulit dipisahkan. Hal demikian sangat penting bagi kepentingan akademik maupun advokasi.