Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Sumber: RonaIndonesia.com, Jakarta, 30 Maret 2014

RonaIndonesia.com – Lima stiker bergambar calon legislatif dari lima partai berbeda, tertempel di kaca depan rumah Ratna Mayasari (35 tahun). Kelimanya berasal dari partai berbeda dengan latar belakar warna stiker berbeda;  kuning, biru tua, orange dan hijau. Dari kelima caleg itu ada yang maju untuk DPRD Jakarta, ada pula yang maju memperebutkan kursi legislatif di Senayan.Tak hanya kaca jendela yang jadi sasaran. Pintu triplek setinggi 160 cm juga jadi sasaran. Dua buah stiker berlatar merah tertempel di pintu berwarna hijau itu. Begitu juga dengan rumah tetangga Ratna. Mayoritas rumah di daerah Menteng Jaya, Jakarta Pusat itu penuh dengan stiker-stiker para caleg.

 

Menurut Ratna, sejak masa kampanye pemilihan legislator dimulai, ada saja yang menempel stiker di depan rumahnya. Bahkan, rumah Ratna yang terbuat dari papan berwarna hijau setinggi 160 cm tak luput dari sasaran penempelan stiker. “Biasanya ada yang langsung pasang aja, saya gak tau kapan masangnya,” kata Ratna saat ditemui Ronaindonesia.com, Jumat (28/3/14).

 

Dari semua foto caleg yang tertempel semuanya berjenis kelamin laki-laki. Padahal kata Ratna dia sesekali juga ingin tahu rupa para caleg perempuan. Dia ingin mendengar langsung program dan rencana para caleg perempuan bila kelak menjadi anggota dewan. Namun sayang, menurut Ratna sosialisasi dari para caleg perempuan tak terlalu banyak ia dengar.  “Gimana mau milih, tau aja enggak orangnya,” ujar ibu beranak dua itu.

 

Ratna memang tengah berpikir. Dia mengaku sempat terlintas untuk memilih caleg perempuan. Alasannya, Ratna merasa DPR saat ini tak terlalu bermanfaat bagi masyarakat. Alih-alih memperjuangkan kepentingan masyarakat, para anggota DPR justru kerap terlihat sibuk berdebat. Perdebatan pun sering tak berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat. “Mungkin kalau lebih banyak anggota DPR yang perempuan, jadinya gak sering ribut dan berantem seperti di tv itu,” celetuk Ratna.

 

Dukungan terhadap caleg perempuan ternyata tak hanya datang dari Ratna. Minggu pagi, (30/3/14) di area car free day, tepatnya di Bundaran Hotel Indonesia, terpampang spanduk berukuran 2 x 8 meter. Dalam spanduk berjudul “Tuliskan Harapanmu untuk Caleg Perempuan,” terdapat banyak harapan yang disampaikan warga. Spanduk itu digagas oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama United Nation Developmet Program (UNDP).

 

Banyak harapan yang ditujukan pada caleg perempuan. Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bidang perempuan, Dunia Wanita menuliskan, “Setiap perempuan harus berani teriak dan ambil sikap no poligami.” Ketika mata melihat bagian bawah spanduk, di posisi tengah, tertulis coretan atas nama Deva/Devi. “Caleg perempuan selamatkan anak-anak Indonesia.”

 ***

Peneliti Women Research Institute, Frisca Anindhita menilai besarnya harapan publik pada caleg perempuan ini sangat wajar. Dalam survei yang dilakukan pada September 2013, lebih dari 40 % responden mengaku rasa keterwakilan terhadap anggota DPR-RI perempuan masih kurang. Survei dilakukan pada 1.200 responden di 33 provinsi dengan margin error 2,8 persen.

 

Dari total responden, sebanyak 58 % responden menyatakan setuju bahwa semakin banyak perempuan di parlemen, akan mempercepat keadilan perempuan dan laki-laki. Mereka terdiri dari 32 % perempuan dan 26 % laki-laki. “Menurut para responden keberadaan lebih banyak perempuan di Senayan, memberi harapan lebih besar terhadap perjuangan isu-isu yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat,” ujar Friska dalam diskusi tentang keterwakilan perempuan, Selasa, 25 Maret 2014.

 

Menurut Frisca, kurangnya keterwakilan perempuan di Senayan berkontribusi menyebabkan masih besarnya ketertinggalan perempuan di masyarakat. Banyak kebijakan yang dibuat tak responsif terhadap gender. Akibatnya, dalam banyak bidang akses yang diterima perempuan masih tertinggal dibanding laki-laki. “Semakin banyak perempuan yang masuk Senayan, tentu peluang lahirnya kebijakan yang dberpihak pada kesetaraan gender semakin luas,” terang Frisca.

 

Salah satu caleg perempuan, Diennaryati Tjokrosuprihatono, yang maju dari Partai Nasional Demokrat menyatakan yakin semakin banyak perempuan di Senayan, akan semakin merubah warna parlemen. Dia yakin, kualitas legislator perempuan tak kalah bersaing dengan legislator laki-laki. Dia optimis semakin banyak legislator perempuan akan semakin banyak kebijakan yang berpihak pada masyarakat kecil. Alasannya, perempuan adalah figur yang sangat dekat dengan kebutuhan masyarakat luas. “Perempuan akan lebih peka terhadap berbagai masalah sosial di masyarakat.”

 

Sejak pemilu 1999 jumlah perempuan yang duduk di Senayan memang terus meningkat. Berdasarkan catatan Kementerian PP dan PA, angka keterwakilan perempuan pada Pemilu 1999 mencapai 9 persen. Jumlah ini naik menjadi 11,09 % pada pemilu 2004. Pada pemilu 2009 kembali naik menjadi 17,86 %. Tak hanya di DPR, di DPD jumlah senator perempuan juga mencapai 27 %.

 

Pada pemilu 9 April mendatang, jumlah caleg perempuan di parlemen diprediksi bakal jauh  meningkat.  Menteri PP dan PA, Linda Amalia Gumelar optimistis jumlah itu bisa terwujud. Apalagi sudah ada aturan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 Tentang Pemilu, yang mensyaratkan keterwakilan 30 persen perempuan dalam daftar calon legislatif. Dengan begitu, jumlah caleg perempuan yang bertarung lebih banyak sehingga peluang lolos ke Senayan pun diharapkan lebih besar.

 

Menurut Linda, terpenuhinya keterwakilan perempuan 30 persen di parlemen sangat diperlukan untuk mengawal kebijakan pemberdayaan perempuan dan pemenuhan hak anak di Parlemen. Kehadiran perempuan diyakini akan mempercepat  pengarusutamaan gender.  “Makanya sekarang ayo kita galakkan perempuan pilih perempuan, dan kita ajak juga agar pemilih laki-laki mau memilih caleg perempuan, agar pada Pemilu 2014 terjadi peningkatan keterwakilan perempuan di legislatif pusat dan daerah,” kata Linda. *** (A Pernando)

 

Tautan berita dapat diakses di sini.