Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Sumber: Lampung Post Cetak, Januari 2014

 

CALON anggota legislatif pria lebih banyak melakukan korupsi daripada calon anggota legislatif perempuan. Hal ini berdampak pada pilihan masyarakat dan tidak berharap pada politikus laki-laki.


“Kalau dari hasil penelitian kami di lapangan, justru kini masyarakat berharap banyak ke (caleg) perempuan, karena memang mulai tidak percaya dengan anggota DPR pria,” kata Direktur Penelitian Women Research Institute, Edriana Noerdin, usia seminar bertajuk Representasi Politik Perempuan: RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender, di Jakarta, Kamis (16/1).


Dalam penelitian tersebut, publik menganggap caleg perempuan bisa diharapkan tidak sekorup caleg pria, meskipun dalam beberapa waktu terakhir ada banyak pejabat atau tokoh perempuan yang ditangkap KPK karena korupsi.

Sumber: Koran Merdeka, 17 Januari 2014

 

Kasus korupsi politisi perempuan ternyata tidak berimbas pada pencalegan kaum hawa. Hasrat masyarakat untuk memilih caleg perempuan pada pemilu nanti justru makin tinggi. Benarkah?

 

PENDAPAT ini berdasarkan hasil survey dari Women Research Institute (WRI). Menurut survey WRI, sekarang ini publik justru makin tidak percaya terhadap politisi pria. Soalnya, perbandingan politisi yang tertangkap karena kasus korupsi masih didominasi kaum lelaki.

 

“Kalau dari hasil penelitian kita di lapangan, justru kini masyarakat berharap banyak ke (caleg) perempuan karena memang mulai tidak percaya dengan anggota DPR pria,” kata Edriana Noerdin, panel ahli dari WRI dalam diskusi di Jakarta, kemarin.

Sumber: Kabar24.com, Kamis, 16 Januari 2014


Kabar24.com, JAKARTA— Publik mulai tak percaya dengan calon anggota legislatif pria, karena lebih banyak melakukan korupsi dibanding calon anggota legislatif perempuan.


"Kalau dari hasil penelitian di lapangan, justru kini masyarakat berharap banyak ke (caleg) perempuan karena memang mulai tidak percaya dengan anggota DPR pria," kata Direktur Penelitian Women Research Institute, Edriana Noerdin usai seminar bertajuk "Representasi Politik Perempuan: RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender" di Jakarta, Kamis (16/1/2014).
Dalam penelitian tersebut, publik menganggap caleg perempuan bisa diharapkan tidak sekorup caleg pria. Meskipun, dalam beberapa waktu terakhir ada banyak pejabat atau tokoh perempuan yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena tindak pidana korupsi.

Sumber: KOMPAS, Jumat, 17 Januari 2014
KILAS POLITIK & HUKUM

Dewan Perwakilan Rakyat diharapkan segera menyetujui pengesahan Rancangan Undang-undang Kesetaraan dan Keadilan Gender (RUU KKG) menjadi UU. Direktur Penelitian Women Research Institute Edriana Noerdin, di Jakarta, Kamis (16/1), RUU KKG merupakan terobosan dalam upaya pengarusutamaan isu kesetaraan jender di berbagai aspek kehidupan. Sumarjati Arjoso, anggota Komisi VIII DPR, mengatakan, RUU KKG masih dibahas di komisinya. RUU itu diharapkan bisa disahkan sebelum anggota DPR 2009-2014 mengakhiri jabatannya. (JON)

Sumber: BeritaSatu.com, Kamis, 16 Januari 2014


Jakarta - Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI), sebanyak 45% masyarakat Indonesia merasa tidak terwakili oleh anggota DPR RI. Hanya ada 23% yang mengatakan terwakili.


Sementara, saat pertanyaannya lebih spesifik mengenai seberapa besar mereka merasa terwakili oleh anggota DPR yang perempuan, sebanyak 40% mengatakan terwakili, dan 31% merasa cukup terwakili.