Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Sumber: MajalahKartini.co.id | 17/09/2015 17:30

Kepemimpinan perempuan mampu mendorong terjadinya sebuah perubahan walau sering tak terlihat.

 

MajalahKartini.co.id - Keterbukaan politik saat ini, gerakan perempuan semakin meluas. Keluasan ini menuntut kemampuan dari organisasi perempuan untuk mengembangkan jaringan kerja demi mengatasi kekurangan yang harus diakui masih sangat banyak.

Mengenai hal ini, Women Research Institute (WRI) dan Hivos mengadakan seminar publik membahas hal ini dengan tajuk "Menguatnya Kepemimpinan Perempuan di Tengah Keterbukaan Politik" dan peluncuran panduan pelatihan "Kepemimpinan Perempuan" di Jakarta, Rabu (17/9).


"Pandangan tentang kepemimpinan sangatlah beragam, baik dari segi pemahaman persoalan perempuan, pemahaman relasi kuasa, kemampuan strategi kerja, pendanaan, maupun segi kaderisasi. Hal ini yang coba kita fokuskan, berdayakan," ujar Edriana dari WRI.

Ia melanjutkan, meski kepemimpinan perempuan secara struktural pada sektor publik belum terjadi secara meluas namun transformasi sosial telah mendorong munculnya pemimpin dalam gerakan perempuan di akar rumput. Kepemimpinan perempuan mampu mendorong terjadinya sebuah perubahan walau sering tak terlihat.

Menguatnya pengorganisasian perempuan seperti terlihat di Riau. Perempuan terlibat menjadi inisiator dalam penyelesaian masalah konsesi hutan. Di Desa Berbari, perempuan melakukan aksi demonstrasi memblokade jalan menuntut perusahaan yang tidak menjalankan kewajibannya menyiram jalanan yang berdebu menyebabkan banyak warga yang terkena ISPA.

"Kami kecewa ketika kementerian bilang kurang dana untuk mengurus dan mengevakuasi warga, terutama perempuan dan anak-anak, bagaimana mungkin kekeurangan dana, sumber daya di Riau itu besar, pasti keuntungan yang didapat juga besar, dibawa ke mana itu ungnya," tambah Helda Khasmy salah satu pembicara dari Seruni Riau.

Rendahnya jumlah keterwakilan perempuan di parlemen bisa jadi karena tidak banyak permpuan yang terjun ke dunia politik karena faktor kultur yang belum membuka ruang luas, juga adanya keterbatasan modal sosial, politik dan finansial bagi perempuan.

Padahal keterlibatan perempuan dalam politik formal itu menguatkan perjuangan kebijakan yang ramah perempuan.

"Di sini lah perjuangan perempuan diuji, dukungan kebijakan dan pendanaan bagi peningkatan keadilan dan kesetaraan gender serta pengembangan organisasi dan kepemimpinan perempuan sangat dibutuhkan." ungkap Edriana. (Foto: Yosa)

M. Yosa

 

Tautan:

http://majalahkartini.co.id/berita/kepemimpinan-perempuan-dorong-perubahan-sosial