Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Kondisi deforestasi di Indonesia saat ini telah mencapai taraf yang mengkhawatirkan. Provinsi Kalimantan Barat dan Sumatra Barat, misalnya, terus mengalami peningkatan kehilangan lahan tutupan pohon selama lebih dari satu dekade terakhir. Kondisi perubahan iklim dan kerusakan hutan pun berdampak besar terhadap perempuan yang tinggal di areal hutan dan menggantungkan kehidupannya pada hutan. Di sisi lain, perempuan cenderung tidak dilibatkan dalam forum-forum pengelolaan hutan dan tidak diberikan kesempatan untuk menyuarakan kebutuhannya. Padahal, perempuan merupakan salah satu aktor utama dalam pengelolaan hutan, dan manfaat dari pelibatan perempuan dalam pengambilan keputusan akan dirasakan oleh seluruh anggota keluarganya. Menindaklanjuti permasalahan tersebut, Konsorsium Yayasan Women Research Institute (YWRI), WALHI Sumatera Barat dan Perkumpulan PENA Kalimantan Barat, dengan didukung oleh Proyek Kemakmuran Hijau MCA-Indonesia, telah melaksanakan program “Pengelolaan Hutan untuk Kesejahteraan Perempuan” di 4 nagari di Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, dan 1 desa di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

 

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah menjadi bencana tahunan selama dua dekade terakhir membawa dampak masif yang berkepanjangan bagi masyarakat. Berdasarkan catatan Komnas HAM, kejadian asap karhutla pada tahun 2015 telah merenggut sedikitnya 23 nyawa. Sejalan dengan hal tersebut, Kementerian Sosial (2015) mencatat 23 orang meninggal, termasuk diantaranya anak-anak dan bayi, dan diperkirakan tidak kurang dari 500.000 orang menderita penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA). Bencana kabut asap terutama berdampak kepada kelompok rentan seperti perempuan hamil, ibu dengan bayi dan balita, anak-anak, dan lansia. Hal ini turut divalidasi oleh penelitian Women Research Institute (WRI) pada tahun 2016 mengenai dampak kabut asap pada sektor kesehatan, lingkungan, ekonomi, hingga pendidikan.

Era keterbukaan politik saat ini, gerakan perempuan semakin meluas, baik dari sisi wilayah kerja, persebaran geografisnya, serta makin beragamnya bidang kerja dan bahkan pendefinisian persoalan gender. Keberagaman dan keluasan bidang garapan ini juga menuntut kemampuan dan kemauan dari organisasi perempuan untuk membangun dan mengembangkan jaringan kerja, demi mengatasi kekurangan yang harus diakui masih sangat banyak, baik dari segi pemahaman persoalan perempuan, pemahaman relasi kuasa, kemampuan pengembangan strategi kerja, pendanaan, maupun dari segi kaderisasi kepemimpinannya.

Sebuah Negara dikatakan berhasil dalam program pembangunan apabila tingkat kesejahteraan masyarakatnya tinggi. Tingkat kesejahteraan lazim diukur dengan melihat tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan kondisi kesehatan masyarakatnya. Indonesia menetapkan target MDGs Angka Kematian Ibu (AKI), sebagai salah satu indikator pembangunan, sebesar 102 kematian per 100,000 kelahiran hidup untuk tercapai pada tahun 2015. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (2012) AKI di Indonesia berada masih berada pada angka 359 kematian per 100.000 kelahiran hidup.

Women Research Institute (WRI) mendukung inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) yang memasukkan Rancangan Undang-Undang Kesetaraan dan Keadilan Gender (RUU KKG) dalam daftar Program Legislasi Nasional (Prolegnas) RUU Prioritas 2012. Inisiatif parlemen memajukan RUU KKG merupakan salah satu “investasi” dan terobosan sangat berarti bagi reformasi kebijakan yang berpihak kepada perempuan di Indonesia. WRI berpendapat bahwa RUU KKG merupakan kebijakan alternatif untuk mengoreksi ketimpangan gender dan untuk membuka ruang partisipasi dan akses perempuan dalam politik. RUU KKG perlu didukung, karena sebagian besar kebijakan yang lahir pada era reformasi dan ditujukan untuk mendorong demokratisasi di Indonesia tidak serta-merta meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama kesejahteraan perempuan.

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini