Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Sehubungan dengan pengembangan kurikulum dan rencana pelatihan, Health Services Program (HSP) dan Women Research Institute (WRI) akan menyelenggarakan 15 lokakarya dalam kurun waktu enam bulan di beberapa wilayah, yaitu: 1) Serang; 2) Tangerang; 3) Jakarta Barat; 4) Jember; 5) Malang; 6) Aceh Barat; 7) Aceh Besar; 8) Banda Aceh; 9) Deli Serdang; 10) Medan; 11) Sumedang; 12) Kota Bandung; 13) Bogor; 14) Aceh Jaya and 15) Kediri. HSP dan WRI telah menyelenggarakan beberapa lokakarya pada bulan Juni 2007. Laporan ini memberi gambaran atas pengimplementasian dua lokakarya yang telah dilaksanakan di Serang pada 12-14 Juni, 2007 dan di Jember pada 19-21 Juni 2007.

 

Capaian

 

Program ini adalah program peningkatan kapasitas untuk memperkuat keterampilan advokasi guna mendukung Kementerian Kesehatan dalam upaya percepatan penurunan angka kematian ibu, bayi, dan anak. Salah satu strategi yang ditempuh adalah dengan melakukan advokasi di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten dengan juga memastikan tersedianya alokasi sumber daya yang cukup bagi penurunan kematian ibu, bayi, dan anak. Terkait dengan peraturan desentralisasi, program ini menggarisbawahi kerja advokasi di tingkat kabupaten dengan memperkuat kapasitas Suku Dinas Kesehatan dalam melakukan advokasi.

 

Proses fasilitasi dalam dua lokakarya di Serang dan Jember dapat dikatakan telah mampu meningkatkan keterampilan advokasi para peserta. Para peserta yang mewakili anggota DPRD, pegawai negeri sipil, dan peserta dari lembaga swadaya masyarakat telah mendapatkan pengalaman dan pengetahuan dalam melaksanakan kegiatan advokasi. Berbeda dengan lokakarya di Serang, lokakarya di Jember tidak diikuti oleh perwakilan dari DPRD. Pada awalnya advokasi direncanakan untuk menemui perwakilan DPRD, namun sayangnya anggota DPRD Jember harus mengunjungi pulau lain yaitu Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan. Oleh karena hal ini, penanggung jawab Jember mengubah latar kegiatan advokasi yang sebelumnya berupa lobi terhadap DPRD menjadi audiensi dengan Bupati Jember. Para peserta yang kemudian membentuk tim advokasi ad hoc, i.e. Serang dan Jember, akan menyelenggarakan tindak lanjut guna mendapatkan komitmen dari DPRD Serang dan Bupati Jember.

 

Pelajaran yang Diambil


Pengalaman dari kedua lokakarya menunjukkan bahwa masih terdapat area-area yang harus terus dikembangkan bagi implementasi lokakarya selanjutnya.

 

Para Peserta

 

Lokakarya dirancang untuk meningkatkan keterampilan advokasi para peserta. Oleh karena itu, para peserta lokakarya adalah mereka yang telah memiliki pengetahuan terkait isu-isu kematian ibu dan anak serta advokasi. Sehubungan dengan aspek ini, kriteria seleksi peserta diperuntukkan bagi mereka yang memiliki pengetahuan di bidang ini dan juga pengalaman advokasi. Wilayah Serang adalah contoh yang bagus bagi kriteria peserta terpilih. Kegiatan advokasi terkait dengan kebutuhan untuk mempengaruhi perencanaan program dan alokasi anggaran untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak disetiap wilayah. Para peserta juga harus mewakili kalangan yang telah berada di pertengahan karir. Diharapkan bahwa mereka yang datang dari kalangan ini memiliki pengetahuan mengenai isu terkait dan advokasi serta mampu memberikan pengaruh terhadap para pembuat kebijakan di tingkat kabupaten.

 

Lokakarya direncanakan untuk diimplementasikan dalam periode enam bulan. Meski demikian, para penanggung jawab berharap lokakarya dapat segera diselenggarakan. Para peserta sendiri harus diinformasikan sebelumnya mengenai tujuan dan TOR lokakarya. Pada dua lokakarya sebelumnya, masih terdapat beberapa peserta yang tidak sadar akan tujuan lokakarya.

 

Melalui aktivitas berbagi pengalaman selama lokakarya, para peserta menyadari pentingnya advokasi dan jaringan antar komunitas untuk bertukar informasi mengenai kerja dan pengalaman masing-masing. Penting untuk bertukar informasi mengenai keberhasilan beberapa kelompok dalam membentuk aliansi diantara para pemangku kepentingan. Sama pentingya adalah untuk bertukar informasi terkait dengan upaya para pemangku kepentingan dalam mengedukasi anggota-anggota komunitas untuk mengadopsi cara berpikir kritis dalam menganalisis permasalahan kematian ibu dan anak. Cara yang ditempuh para pemangku kepentingan dalam mengedukasi komunitas berdasarkan data yang dapat diandalkan juga dapat dibagi sebagai sebuah pengalaman yang berharga.

 

Panitia Pelaksana

 

Pada sesi pembukaan masing-masing lokakarya, ditekankan pentingnya data dan bahwa advokasi harus menjadi sebuah aktivitas berdasarkan data. Oleh karena itu, data pendukung sangatlah penting. Serang adalah contoh yang baik karena lokakarya di Serang didukung oleh data pendukung yang kuat. Berbeda halnya dengan Serang, lokakarya di Jember tidak didukung data pendukung yang kuat. Data dan advokasi berbasis data sangat penting, maka implementasi proyek berikutnya di wilayah-wilayah lain dapat merujuk pada implementasi lokakarya di Serang. Lokakarya di Serang adalah sebuah contoh yang bagus terkait APBD dan permasalahan kematian ibu, bayi, dan anak di wilayah Serang.

 

Tujuan utama lokakarya adalah untuk meningkatkan keterampilan advokasi para peserta. Lokakarya sendiri dirancang untuk membantu para peserta mendapatkan pengetahuan dan pengalaman advokasi dalam latar yang nyata baik dalam latar dengar pendapat dengan parlemen atau berurusan dengan masyarakat melalui talkshow dan program radio atau televisi. Untuk tujuan menyelenggarakan lokakarya advokasi di masa mendatang, alokasi waktu untuk persiapan harus lebih panjang. Hal ini agar supaya para penanggung jawab akan memiliki waktu yang cukup untuk membangun hubungan baik dengan para anggota parlemen, pembuat kebijakan di tingkat eksekutif, dan lembaga swadaya masyarakat serta organisasi perempuan yang memiliki pengalaman dalam menyelenggarakan advokasi terkait kematian ibu dan anak. Dengan melakukan ini semua, diharapkan bahwa persiapan, i.e. mengundang para peserta, mempersiapkan latar nyata bagi dengar pendapat dan lobi parlemen, mengundang narasumber berpengalaman dalam isu kematian ibu dan anak serta persiapan kebijakan dan data pendukung di setiap wilayah, dapat dilakukan dengan terencana dan mampu mendorong tercapainya tujuan yang direncanakan. Dalam hal ini, Serang dan Jember dapat dikatakan sebagai contoh kesuksesan dalam mengaplikasikan latar nyata advokasi. Di Serang, latar nyata advokasi dipublikasikan dalam beberapa surat kabar.

 

Berdasarkan pengalaman dari dua lokakarya sebelumnya, para penanggung jawab seharusnya tidak terlalu bergantung pada ketersediaan waktu anggota DPRD mengingat mereka juga memiliki jadwal yang padat. Oleh karena itu, mulai dari sekarang, para penanggung jawab didorong untuk juga mengatur jadwal dengan Bappeda atau Bupati atau Walikota untuk kegiatan advokasi.

 

Pengembangan Rancangan Modul

 

Revisi rancangan modul didasarkan atas masukan-masukan dari HSP dan para penanggung jawab serta berdasarkan pengalaman selama lokakarya. Sejauh ini, modul yang sedang direvisi adalah rancangan yang ketiga. Pada 8 Juni 2007, rancangan modul ketiga juga didiskusikan dengan perwakilan dari Kementerian Kesehatan termasuk perwakilan dari Direktorat Nutrisi, Direktorat Promosi Kesehatan, dan Direktorat Ibu dan Anak serta diperkaya dengan masukan-masukan dari perwakilan dari GTZ dan DHS.

 

Komentar-komentar yang diterima bersifat positif dan perwakilan dari Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa pengembangan modul sangat bermanfaat bagi mereka. Hal ini khususnya yang terkait dengan topik Analisis Anggaran dan Pengidentifikasian Permasalahan Lokal yang terkait dengan kematian ibu dan anak. Perwakilan Kementerian Kesehatan juga berpendapat bahwa alat advokasi, i.e. presentasi yang disampaikan oleh para peserta sebagai isi pokok advokasi mereka, sangat baik dan kuat. Kementerian Kesehatan juga menyebutkan bahwa lokakarya ini telah membekali mereka untuk melakukan lobi dan advokasi untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak.

 

Pengaplikasian Modul ke-3 di Serang adalah suatu keberhasilan dan mungkin saja menjadi praktik terbaik diantara 10 wilayah pengimplementasian program. Para peserta dan anggota DPRD juga merasakan kegunaan lokakarya dan modul untuk melengkapi mereka dalam mengambil langkah-langkah aktivitas advokasi.

 

Fasilitator Pendukung

 

Berdasarkan masukan dari Kementerian Kesehatan, implementasi lokakarya harus mendukung peran para fasilitator pendukung−istilah ini merujuk ke para fasilitator lokal. Keterlibatan para fasilitator lokal dilihat sebagai suatu hal yang penting dalam mendukung kerja tim advokasi ad hoc yang merupakan hasil dari lokakarya.

 

Di Serang dan Jember, para fasilitator lokal menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berpengetahuan luas mengenai advokasi khususnya terkait budget tracking. Keterampilan mereka sangat baik dan mereka juga mampu melibatkan diri dengan para peserta yang datang dari beragam latar belakang (para pemangku kebijakan). Dapat dilihat bahwa tim advokasi ad hoc di Serang dan Jember memiliki fasilitator yang baik dan dapat mencapai tujuan dari rencana kerja. ***

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini