Women Research Institute

Promoting women leadership and inclusive,
gender-based, and sustainable natural resource governance

Koordinator Lapangan untuk Youth Forum Gunungkidul

Sejak tahun 2003, Tri aktif dalam kegiatan organisasi pemuda ketika menjadi Presiden Mahasiswa di masa kuliahnya. Ketertarikannya dalam berorganisasi membawanya masuk ke dunia gerakan masyarakat sipil. Lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam Mamba'ul Ulum Surakarta (STIAMUS) ini juga menjadi pengajar tidak tetap di pondok pesantren sejak tahun 2004 hingga sekarang.

 

Tri telah berpengalaman dalam mendampingi dan mengembangkan forum-forum remaja dan mulai menekuni isu hak kesehatan remaja semenjak bergabung dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Dan Tri mulai bergabung dengan WRI pada tahun 2007 sebagai Koordinator Lapangan untuk Youth Forum di Gunungkidul. ***

Peneliti

Ketertarikan Lutviah pada isu gender dan feminisme di mulai sejak bergabung dengan organisasi Aliansi Remaja Independen (ARI) pada tahun 2010.  Sejak saat itu, Lutviah aktif di berbagai komunitas dan kegiatan sosial yang bergerak di isu kesehatan reproduksi dan seksualitas. Keaktifannya dalam isu tersebut membuatnya terpilih sebagai Youth Advisory Panel oleh United Nations Population Fund (UNFPA) pada 2011-2013 dan Global Citizen Corps oleh Mercy Corps pada 2012.


Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Paramadina ini sebelumnya telah terlibat di berbagai kegiatan penelitian yang diadakan UNESCO, Aliansi Jurnalis Independen dan Pol-Tracking Institute. Sebelum bergabung dengan Women Research Institute, Lutviah bekerja di UNFPA sebagai Research Assistant on the UNFPA Initiatives Addressing Harmful Practices menangani isu pernikahan anak dan sunat perempuan. Pada Juni 2014, Lutviah bergabung dengan Women Research Institute sebagai peneliti.***

Keuangan

 

Karir kerja Fransiska dimulai pada 1987-1988 di sebuah kantor Notaris di Jakarta sebagai staf keuangan. Kemudian dia bergabung di sebuah NGO, di Forum Solidaritas Timor Timur pada 1988-2000. Disamping bekerja di forum tersebut, Siska juga secara partimer bekerja di Proyek Indonesia Masa Depan, Komnas HAM, 1999-2000 sebagai staf keuangan.

 

Pada Oktober 2000-2006 Siska melanjutkan kerjanya di sebuah NGO di Bogor yang bergerak di isu lingkungan (hutan). Dan pada tahun 2007, Siska mulai bergabung di Women Research Institute.***

Direktur Eksekutif

 

Keterlibatan dalam gerakan perempuan, diawali 1984 dengan menekuni diskusi masalah buruh dan penggusuran. Kegiatan ini menggulirkan didirikannya organisasi perempuan Kalyanamitra pada 1985, dan menekuni pendidikan penyadaran gender. Keaktifannya di tingkat nasional sampai internasional, seperti menjadi anggota Asia Pacific Women, Law & Development (1988-1996), juga Global Fund for Women (1989-1996). Selain itu Sita juga menjadi pembicara dan berpartisipasi dalam beragam pertemuan seperti International Conference on Population & Development di Cairo 1994 juga the UN Women’s Conference di Beijing 1995. Pada 1996-1997, Sita melanjutkan studi S2-nya dalam bidang studi gender di London School for Economic & Social Science, Inggris. Bersama sejumlah kawan di Yogya, sepulangnya dari Inggris mendirikan lembaga pendidikan INSIST (Institut Ilmu Sosial Transformatif) pada 1997.

Direktur Penelitian

 

Aktif dalam gerakan perempuan sejak 1986, berawal dari bergiat di kelompok studi yang pada saat itu marak di kalangan mahasiswa. Mulai serius mendirikan kelompok perempuan bersama empat kawan karibnya, pada 1989 bernama Kelompok Kebangkitan Perempuan Indonesia yang kemudian pada perjalanannya menjadi Yayasan Perempuan Mardika.

 

Akhir tahun 2000, menyelesaikan studi S2 dalam women and development di ISS, Belanda. Edriana juga aktif menulis diberbagai kesempatan dan juga sebagai pembicara diforum-forum nasional maupun Internasional seperti Indonesia Update Seminar, Australia dan forum lainnya.

Publikasi Terbaru

  • Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan

    Panduan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan ditulis berdasarkan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepemimpinan perempuan yang dilakukan oleh Women Research Institute (WRI) di lima wilayah terpilih, yaitu Padang, Deli Serdang, Mataram, Pekanbaru, dan Jakarta. Hal ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh WRI pada 2012 dengan tajuk "Feminist Leaderships Paska Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan...

Lembar Informasi

Press Release

Informasi Terkini